Post Human Diagnosis: Isu Tubuh dan Algoritma Masuk ke Ruang Alternatif Sekitar Pasar Tunjungan



Pilihan lokasi ini ini langsung memberi kesan berbeda sejak awal. Seketika memori kecil kami terpanggil ketika perjalanan Road To Artjog di Surabaya. Di Lokasi kami nyangkruk disini di Warung Makan Bagejo, persentasi karya ditempatkan di ruang yang sehari-hari hidup bersama aktivitas pengunjung warung. Situasi ini membuat pembacaan karya terasa lebih dekat dengan realitas keseharian.

Teks kuratorial yang dipasang menjelaskan bahwa proyek ini berangkat dari gagasan tentang tubuh manusia yang kini berada di persimpangan antara sistem biologis dan sistem algoritmik. Tubuh dipahami sebagai ruang yang terus bernegosiasi dengan teknologi, data, dan ritme digital yang semakin mempengaruhi cara manusia hidup, bekerja, dan memandang dirinya sendiri. Isu tersebut terasa relevan dengan pengalaman generasi sekarang yang hidup berdampingan dengan platform digital setiap hari.

Dalam pembacaan kami sebagai bagian dari ekosistem seni Jawa Timur, proyek ini menarik karena menghadirkan isu teknologi melalui pendekatan yang tetap kontekstual dengan ruang sosial di sekitarnya. Warung kecil yang biasanya menjadi tempat singgah makan atau ngobrol berubah menjadi ruang refleksi tentang masa depan tubuh manusia. Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari lingkar seni, tetapi juga warga sekitar yang penasaran melihat teks dan instalasi yang dipasang.

Karya yang ditampilkan membuka diskusi tentang bagaimana kecerdasan buatan, sistem data, dan pola konsumsi digital perlahan membentuk perilaku manusia. Tubuh manusia tidak lagi dilihat sebagai entitas yang sepenuhnya mandiri; ada banyak sistem eksternal yang ikut menentukan ritme kehidupan, dari notifikasi harian hingga pola kerja berbasis platform. Isu ini terasa dekat dengan realitas urban Surabaya yang bergerak cepat dan semakin terhubung dengan sistem digital.

Kami melihat langkah kolektif Ruangan Samping memilih ruang seperti Warung Bagejo sebagai keputusan yang strategis. Presentasi karya terasa lebih cair, interaksi antara pengunjung dan warga sekitar berlangsung alami, dan diskusi muncul tanpa jarak formal. Model seperti ini menunjukkan bahwa ruang seni alternatif di Jawa Timur terus berkembang dengan pendekatan yang fleksibel, memanfaatkan titik-titik sosial yang sudah hidup terlebih dahulu sebelum diaktifkan menjadi ruang seni.

Pameran Post Human Diagnosis memberi catatan penting bahwa praktik seni apakah selaku berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari ? tentang tubuh? teknologi, dan tekanan sistem digital? Maka jawabannya ketika kehadiran karya di ruang publik yang akrab justru memperkuat daya jangkaunya maka pengalaman melihat proyek ini memperlihatkan bagaimana praktek seni arek arek kolektif terus mencari cara baru untuk menyampaikan gagasan yang relevan dengan kondisi masyarakat di Surabaya hari ini.