Tiga Menguak Jalan Pulang | Menyusuri Probolinggo dari Tiga Arah

Ada sesuatu yang menarik dari angka tiga. Dalam geometri sederhana, tiga titik sudah cukup untuk membentuk sebuah bidang, memberi arah, memberi jarak, dan pembacan posisi. Pikiran itu yang langsung terlintas ketika memasuki pameran “Tiga Menguak Jalan Pulang.” Tiga seniman, tiga pengalaman hidup, tiga cara membaca satu wilayah yang sama, yakmi Probolinggo.

Pameran ini mempertemukan karya dari M. Shodiq, Dwi Agusri, dan Abdullah tiga seniman muda dengan latar yang berbeda, tetapi berakar pada lanskap sosial yang serupa. Kami, artchemist team datang seperti sedang menyusuri peta melalui percakapan di antara jejak-jejak itu. Bagi kami, kata menguak menjadi pintu masuk yang menarik. Menguak selalu terasa seperti tindakan membuka sesuatu yang sebelumnya tertutup tirai, mengurai lipatan yang selama ini tidak terlihat.

Di beberapa karya, kami merasakan bagaimana kabupaten dan ruang kecil ini punya sudut yang ambivalen. Sangat terasa jauhnya jarak dari hiruk-pikuk kota, tetapi sekaligus menyimpan kerinduan terhadap mobilitas, kesempatan, dan masa depan yang sering dipusatkan di wilayah dan kolam yang lebih besar.  Ketika membaca judulnya, jalan pulang terdengar sederhana. Pulang biasanya identik dengan rumah, dengan tempat yang terasa akrab. Tetapi setelah berjalan dari satu karya ke karya lain, kata pulang di sini terasa jauh lebih kompleks. Pulang bisa berarti kembali ke asal-usul, bisa juga berarti mempertanyakan apa sebenarnya yang disebut rumah. Sesaat kembali pada memory sewaktu lawatan kami ke Lembana Artgroecosystem 2025 memaknai jalan pulang dalam Pamolean.

Pengalaman itu terasa kuat ketika melihat bagaimana masing-masing seniman bekerja dengan material, pendekatan visual, dan pengamatan terhadap lanskap sosial. Ada karya yang terasa sangat personal, seperti catatan perjalanan yang ditulis diam-diam. Ada juga yang terasa seperti observasi terhadap ruang kolektif bagaimana masyarakat bergerak, tinggal, dan bertahan dalam struktur yang sering kali tidak seimbang.

Sebagai pengunjung, saya merasa pameran ini tidak sedang menawarkan representasi tunggal tentang Probolinggo. Yang hadir justru serpihan pengalaman yang saling bersinggungan. Serpihan itu membentuk semacam peta emosional, sebagai jarak atau tentang identitas bahkan tentang cara senimannya sendiri memahami tempat kelahirannya. Pertanyaanya,

Bagaimana seseorang yang tumbuh di kabupaten memandang dirinya sendiri? Bagaimana hubungan antara pinggiran dan pusat memengaruhi cara kita memahami ruang hidup? Dan apakah pulang selalu berarti kembali, atau justru proses menemukan cara baru untuk melihat asal-usul?”

Pemeran seni, Tiga Menguak Jalan Pulang” akhirnya terasa seperti upaya kecil untuk membaca sebuah wilayah dan praktik artistik para senimannya. Dari tiga titik itu, sebuah ruang baru terbentuk. Ruang untuk memahami Probolinggo, juga ruang untuk bertanya tentang bagaimana kita menemukan jalan pulang kita sendiri.

 

 

 

Editor; AHA