Berkenalan dengan Pennfruit – Graffiti Artist Aekaligus Ilustrator Asal Surabaya

Berkenalan dengan Pennfruit – Graffiti Artist Aekaligus Ilustrator Asal Surabaya

 

Di Antara Keresahan dan Deadline

Ide, bagi Pennfruit, jarang datang dari momen yang dramatis. Justru sering berangkat dari hal-hal kecil: kejadian sepele, rasa nggak puas yang muter-muter di kepala, atau keresahan yang tampaknya remeh. Tapi ide itu benar-benar lahir ketika deadline mulai “napas di leher”.
Di titik itulah, semua keresahan dipaksa cari bentuk. Disederhanakan. Dikerucutkan. Lalu dieksekusi. Deadline bukan musuh, tapi pemicu—alat paksa agar ide berhenti berputar dan mulai bergerak.

 

Stuck di Tengah Jalan
Menariknya, kebuntuan paling sering datang bukan di awal, melainkan saat ide sudah ada, tapi rasanya belum “kena”. Bukan nambah jam kerja yang jadi solusi, tapi justru kabur sebentar. Instagram dibuka tanpa tujuan. Bahkan sesekalinlive di Tiktok, skroll Video lucu diputar acak. Pindah ke Facebook, nyasar ke Marketplace, scroll barang-barang yang nggak niat dibeli. Aneh, tapi bekerja. Mood pelan-pelan balik, kepala jadi lebih ringan, dan ketika kembali ke ilustrasi selalu ada celah kecil untuk lanjut lagi. Kadang stuck bukan karena ide habis, tapi karena butuh ketawa sebentar sebelum gas lagi.

 

Dari Tembok ke Merch
Ketika karyanya digandeng Persebaya untuk kebutuhan merchandise, yang berubah bukan cara berpikirnya, tapi gaya visualnya yang berevolusi. Akar graffiti masih kuat bermain di font, gesture huruf, dan energi jalanan. Tapi kini bertemu dengan pendekatan ilustrasi yang lebih flat, rapi, dan sistematis. Dua dunia itu akhirnya menyatu. Rasa graffiti tetap hidup di karakter dan ritme visual, tapi dibungkus agar bisa bekerja di medium merch. Tetap berisik di rasa, lebih tenang di bentuk. Bukan meninggalkan yang lama, melainkan menggabungkan akar dengan kebutuhan medium.


Personal di Ruang Kolektif
Masuk ke konteks sepak bola dan suporter berarti masuk ke ruang yang sangat kolektif. Semua orang ingin langsung paham tanpa harus berpikir panjang. Di situlah ilustrasi berperan sebagai jembatan. Pesan harus kebaca cepat. Siluet jelas. Emosi langsung kena. Signature personal tetap diselipkan lewat karakter, komposisi, gestur, dan energi graffiti yang masih menempel. Tidak harus rumit yang penting sadar konteks.

Eksperimen, Gagal, dan Titik Pilih
Eksperimen dan kegagalan sudah jadi bagian sehari-hari. Ide-ide liar menumpuk banyak, belum semua terealisasi. Tapi itu bukan salah arah lebih ke belum nemu pintu masuk. Bagi Pennfruit, gagal bukan titik jatuh, melainkan titik pilih. Mau upgrade, nyari medium baru, atau tetap jadi “hiu di kolam tambak”: jago, tapi di ruang yang itu-itu saja. Dari situ kelihatan, mau tumbuh atau nyaman.

Satu Kalimat yang Jujur
“Mimpilah setinggi langit ke-7. Kalau pun gagal, minimal kamu sudah nyentuh 4, 5, atau 6.”

 


Tentang Pennfruit
Khotibul Umam, aka Pennfruit, adalah graffiti artist sekaligus ilustrator asal Surabaya. Perjalanannya dimulai akhir 2010 dari tembok, cat semprot, huruf liar, dan malam yang panjang. Jalanan membentuk rasa, mental, cara membaca ruang, serta keberanian untuk salah dan mencoba lagi. Kini kanvas berganti: dari tembok ke digital, dari font ke karakter, dari graffiti ke ilustrasi. Tapi akarnya tetap sama. Semua pengalaman itu dibawa ke bentuk yang lebih rapi, tanpa kehilangan jiwa.

Salam kenal, sobat Artchemist 🫶🏼