

Info Ngopi untuk Para Pekerja Seni
“P Info…”
Sebuah awal text dari beberapa teman yang menanyakan keberadaan diri. Apakah ada info terkini bisa dihampiri untuk mengerjakan sesuatu? Tentu saja, jawabannya pasti di warung kopi. Tinggal dan hidup di Surabaya nggak kaget lah banyak warung kopi menjelma jadi ruang kerja. Meja panjang dipenuhi laptop, tablet gambar, buku catatan, dan gelas kopi yang berganti-ganti. Tempat seperti STK dan warung kopi sejenisnya pelan-pelan menjadi lokasi “studio darurat” bagi perupa, penulis, kurator, dan pekerja seni lintas disiplin. Fenomena ini semakin sering terlihat, pekerja lepas menuntut waktu, membutuhkan konsentrasi, dan ruang untuk berpikir. Dalam banyak kasus, warung kopi menjadi satu-satunya ruang yang memungkinkan kerja itu berlangsung.
Menulis Seni di Ruang Transit
Dalam satu kesempatan, Artchemist pernah berbincang dengan Ayos Purwoaji (@aklampanyun) ia penulis dan kurator yang terlibat dalam Arak Arak Midnight Haze and The Drifting Flocks: ArtJog Road to Surabaya bulan April tahun lalu. Di sela aktivitas kuratorialnya, Ayos dihadapkan pada tuntutan yang akrab bagi banyak pekerja seni: menulis narasi, merumuskan konteks, dan menyusun gagasan, sering kali menemui tenggat yang ketat.
Menariknya, proses penulisan itu tidak selalu terjadi di ruang kerja khusus. Ia justru mencari waktu di warung kopi ruang yang secara teknis tidak dirancang untuk kerja sunyi, tetapi secara praktis memungkinkan pekerjaan tetap berjalan. Dalam pengalaman kolektif yang sering terdengar di lingkar kesenian, situasi ini bukan pengecualian. Banyak penulis, kurator, dan perupa akhirnya berkata hal serupa:
“sek yo, aku tak mingle butuh waktu dewe gawe nulis”
dan kami menghargai keputusannya sekaligus memahami situasi karena di sanalah ia bisa menemukan waktu. Pernyataan semacam ini berulang. Semacam keluhan personal yang menjadi tanda situasi struktural.
Warung Kopi sebagai Kompromi Ekosistem dalam Konteks Pelaku Seni
Warung kopi menawarkan apa yang tidak selalu dimiliki perupa: listrik, internet, ruang duduk, dan legitimasi untuk “berlama-lama”. Ia menjadi tempat menunggu ide matang, menulis proposal, menyusun narasi pameran, atau mengerjakan ilustrasi digital. Namun, warung kopi tetaplah ruang transit. Ia tidak menyediakan privasi, tidak memberi ruang untuk proses yang berantakan, dan tidak mendukung kerja jangka panjang. Banyak perupa menyesuaikan cara kerjanya agar “cocok dengan meja kopi”, karena keterbatasan ruang.
“Mosok lukisan kanvasku tak gowo mrene? cik repot e” Dalam pernyataan kolektif yang sering muncul, ada kalimat jujur dan sederhana.
Studio atau Ruang Pribadi sebagai Kebutuhan
Di Jawa Timur, studio sering dipahami sebagai simbol kemapanan, ruang yang hanya bisa diakses seniman tertentu atau institusi. Akibatnya, kebutuhan akan studio jarang dibicarakan sebagai kebutuhan dasar kerja seni. Padahal, baik perupa maupun penulis seni membutuhkan ruang untuk gagal, mengulang, menyimpan arsip, dan bekerja tanpa harus terus-menerus memesan kopi agar tetap “berhak duduk” untuk keberlanjutan praktik. Ketika penulisan kuratorial, riset seni, dan produksi visual dilakukan di ruang sementara, energi kreatif sering terkuras untuk beradaptasi.
Jawa Timur memiliki komunitas seni yang aktif dan solid. Banyak sekali jumlahnya. Apakah warga seni bisa menghitung? Apa dan siapa saja kolektif seni yang bergerak di Jawa Timur? Mereka sibuk bikin-bikin. Banyak acara, pameran, diskusi, dan inisiatif mandiri tumbuh dari semangat kolektif. Namun pertumbuhan ini belum sepenuhnya diiringi oleh ketersediaan ruang kerja yang memadai. Ruang seni lebih sering hadir sebagai kamar produksi. Sementara itu, proses yang justru menjadi jantung kerja seni terpaksa berpindah-pindah: dari rumah ke warung kopi, dari warkop ke ruang publik lainnya. Fenomena seorang Ayos Purwoaji menulis narasi kuratorial di warung kopi bukan kisah tunggal. Ia adalah potret ekosistem yang masih menggantungkan kerja intelektual dan artistik pada ruang-ruang kompromi.
Warung Kopi Tetap Penting, Bagi Siapa?
Warung kopi tidak perlu disingkirkan dari peta kesenian. Ia penting sebagai ruang temu, ruang obrolan, dan ruang lahirnya ide. Banyak kolaborasi justru bermula dari sana. Namun, ketika warung kopi terus menjadi substitusi ruang kerja Arek Xheni, ada persoalan yang belum selesai. Perupa dan pekerja seni di Jawa Timur tidak kekurangan kemauan bekerja. Yang kurang adalah pengakuan bahwa kerja seni membutuhkan ruang secara fisik dan struktural. Atau justru yang kurang adalah figure ayah? *Lho Guyon*
Seperti yang sering diucapkan secara setengah bercanda, setengah serius di meja-meja kopi:
“P info! 2026 Janjian ngopi kudu onok sing di garap, P Info. Janjian ngopi dadakan berarti kudu onok sing diselametno!”
Dan barangkali, sudah waktunya kebutuhan itu dibicarakan lebih serius.
Editor: AHA