Apakah merchandise musik masih bisa dianggap sebagai produk, ketika proses penciptaannya melibatkan bahasa visual yang sama seriusnya dengan penciptaan musik itu sendiri?

Apakah merchandise musik masih bisa dianggap sebagai produk, ketika proses penciptaannya melibatkan bahasa visual yang sama seriusnya dengan penciptaan musik itu sendiri?

Ketika membicarakan sebuah konser, perhatian sering kali tertuju pada musik yang dimainkan di atas panggung. Penonton datang untuk mendengar lagu-lagu yang mereka kenal, menyanyikan lirik bersama, dan membawa pulang pengalaman yang akan mereka kenang beberapa waktu setelah lampu venue dimatikan. Namun di balik pengalaman tersebut, terdapat lapisan lain yang sering luput dari pembicaraan: peran bahasa visual yang membantu membentuk identitas sebuah karya musik.

Di skena independen, hubungan antara musik dan seni visual memiliki kedekatan yang sulit dipisahkan. Pelakunya banyak yang lahir bersama sampul album, poster pertunjukan, desain merchandise, dokumentasi, hingga berbagai artefak visual yang menyertainya. Dalam banyak kasus, pengalaman seseorang terhadap sebuah karya musik bahkan dimulai dari visual yang ia lihat sebelum mendengar satu nada pun.

Hal inilah yang terasa menarik ketika melihat bagaimana label-label independen seperti Bojakrama membangun ekosistemnya. Kami berkesempatan mampir ke toko Bojakrama di Pucang Anom Surabaya. Saat itu juga kami menyadari bahwa mereka telah menciptakan ruang bagi insan praktik kreatif untuk saling beririsan. Musisi, ilustrator, desainer grafis, fotografer, penulis, hingga kolektor, semuanya terlibat dalam rantai penciptaan yang sama.

Di tengah budaya konsumsi yang bergerak cepat, merchandise musik sering dianggap sebagai produk pendukung atau alat promosi. Padahal jika diperhatikan lebih dekat, banyak merchandise musik independen justru bekerja seperti karya seni. Kaus konser, poster, kaset, CD, maupun vinyl bukan hanya benda yang dijual setelah pertunjukan selesai. Mereka adalah medium yang menyimpan narasi dan memperpanjang kehidupan sebuah karya. Bagi seorang ilustrator, tantangan terbesar bukanlah menciptakan gambar yang indah.

“Tantangannya adalah menerjemahkan sesuatu yang tidak terlihat. Bagaimana suara diterjemahkan menjadi bentuk?  Bagaimana emosi menjadi warna? Bagaimana lirik menjadi simbol?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat proses penciptaan visual untuk musik memiliki karakter yang berbeda dibandingkan ilustrasi komersial pada umumnya.

 

Seorang ilustrator yang mengerjakan merchandise musik sesungguhnya sedang melakukan proses mendengarkan. Ia mencoba memahami atmosfer yang dibangun oleh musisi, menangkap nuansa yang muncul dari lagu-lagu mereka, lalu mengubahnya menjadi bahasa visual yang dapat dikenakan, disentuh, atau dipajang. Dalam proses tersebut, ilustrasi tidak lagi menjadi pelengkap. Ia menjadi bagian dari karya itu sendiri.

Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai rilisan fisik yang masih dipertahankan oleh banyak label independen. Ketika sebuah album dirilis dalam format vinyl edisi terbatas, misalnya, perhatian tidak hanya tertuju pada kualitas rekaman, tetapi juga pada desain kemasan, tata letak, ilustrasi, warna piringan, hingga pengalaman membuka dan memegangnya.

Karena itu, keberadaan merchandise dalam musik independen sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada sekadar ekonomi kreatif. Ia menunjukkan bahwa sebuah karya dapat hidup dalam berbagai bentuk. Lagu menjadi poster. Poster menjadi kaus. Kaus menjadi arsip personal yang dibawa seseorang selama bertahun-tahun. Pada akhirnya, benda-benda tersebut membantu menjaga ingatan tentang sebuah pertunjukan, sebuah fase kehidupan, atau bahkan sebuah komunitas.

Yang menarik, hubungan ini sering lahir secara organik. Banyak ilustrator dan musisi independen tumbuh dalam lingkungan yang sama. Mereka bertemu di gigs kecil, pameran, ruang kolektif, studio, atau tongkrongan yang menjadi tempat bertukar referensi. Kedekatan semacam ini membuat kolaborasi yang terjadi terasa lebih jujur dan personal. Visual yang lahir tidak dibuat untuk memenuhi tren pasar, melainkan untuk mengartikulasikan identitas yang memang tumbuh dari dalam komunitas itu sendiri.

Mungkin di sinilah letak pentingnya keberadaan label seperti Bojakrama yang ternyata bisa menjadi ruang pertemuan bagi berbagai praktik kreatif yang saling menghidupi. Musik memberi inspirasi bagi karya visual. Karya visual memperluas jangkauan musik. Keduanya bergerak bersama, membangun ekosistem yang membuat sebuah skena tetap hidup.

Pada akhirnya, ketika seseorang membawa pulang sebuah vinyl, membeli kaus konser, atau menyimpan poster pertunjukan di dinding kamarnya dengan membawa pulang hasil kerja kolektif dari banyak orang yang percaya bahwa musik dapat hidup melampaui suara, dan bahwa gambar, warna, serta bentuk memiliki kemampuan yang sama kuatnya untuk menyimpan kenangan.

 

 

editor: AHA