Junieawan Bagaskara: Membiarkan Ide Mengendap Sebelum Menjadi Gambar

 


Bagi Junieawan Bagaskara, ide tidak memiliki satu sumber yang pasti. Musik, percakapan, buku, hingga peristiwa sehari-hari sama-sama dapat memicu lahirnya sebuah gagasan. Semua pengalaman itu menjadi bahan yang kemudian diproses dalam waktu yang berbeda-beda sebelum akhirnya berkembang menjadi sebuah karya. Dalam situasi tertentu, deadline juga menjadi faktor yang mendorong ide muncul lebih cepat.

Cara kerja tersebut membuat Junieawan menempatkan riset sebagai bagian penting dalam praktiknya. Ia menyusun proses kreatif melalui lima tahapan: Riset, Mempelajari, Memahami, Merenungi, lalu Eksekusi. Menurutnya, kebuntuan sering muncul ketika proses visual dimulai sebelum pemahaman terhadap sebuah isu atau gagasan benar-benar terbentuk.

Tahap yang paling menantang justru datang ketika memasuki eksekusi. Pada fase ini, ia memilih untuk berhenti mencari referensi tambahan dan fokus pada apa yang telah dipelajari sebelumnya. Baginya, keputusan visual perlu dibangun dari proses yang sudah dijalani, bukan dari keraguan yang terus diulang selama pengerjaan berlangsung.

Pendekatan serupa juga diterapkan ketika mengerjakan ilustrasi untuk berbagai band. Junieawan tidak berusaha menerjemahkan lirik lagu menjadi gambar secara langsung. Ia lebih tertarik membaca suasana, pengalaman, dan energi yang muncul setelah musik didengarkan. Dari sana, visual dikembangkan sebagai medium yang memiliki narasi sendiri, sekaligus tetap berhubungan dengan dunia yang dibangun oleh musisi.

Meski sering berkolaborasi dengan berbagai klien, brand, maupun band, Junieawan mengaku tidak banyak mengubah cara berkaryanya. Ia melihat kolaborasi sebagai proses dialog untuk menemukan titik temu antara kebutuhan proyek dan pendekatan visual yang ia miliki. Menurutnya, identitas seorang ilustrator tidak semata ditentukan oleh gaya visual, melainkan juga oleh cara berpikir dalam merespons sebuah persoalan.

Eksperimen menjadi bagian yang terus hadir dalam perjalanan kreatifnya. Berbagai pendekatan visual yang ia gunakan saat ini berawal dari kebiasaan mencorat-coret berbagai permukaan saat masih sekolah. Pengalaman tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari bahasa visual yang terus ia eksplorasi hingga sekarang. Karena itu, kegagalan baginya lebih sering menjadi ruang belajar daripada sesuatu yang harus dihindari.

Di luar praktik berkarya, Junieawan juga aktif memproduksi dan mendistribusikan poster-poster aksi sebagai bagian dari praktik kebudayaan dan partisipasi politik. Saat ini, ia masih mengerjakan sejumlah proyek yang berkaitan dengan arsip poster, musik, ruang, dan budaya berbagi. Ketertarikan tersebut berangkat dari keyakinannya bahwa sebuah karya akan terus berkembang ketika beredar, digunakan, dan dimaknai kembali oleh orang lain.

Proses kreatif yang ia jalani hari ini ia rangkum dalam satu kalimat sederhana: “Tidak berhenti belajar, melepaskan ragu, lalu mulai membuat.” Kalimat tersebut menjadi prinsip yang terus ia gunakan dalam menjalani praktik berkesenian.

 

Editor:  AHA