NEW COMER COLLECTIVE: Jebolan Bangkalan aktif di Gresik yang senang Merupa:

Screenshot
Screenshot

Pertanyaan pertama yang terlontar ketika kami menyapa “Konflik internal apa yang sering kejadian diantara kalian?”  Ternyata jawabannya sederhana: “anak-anak paruh waktu di Kesenian, sisanya budak korporat” Jawab Raka, satu diantara anggota Kendati Chaos yang rela membagi waktunya untuk aktualisasi diri bikin-bikin pertunjukan dan pameran rupa.

masuk lokasi pameran di Chaotic Shift III artinya sudah ke tiga kalinya teman-teman Kendat merawat ruang pertemuan. Seperti ruang publik biasa pepohonan rindang, bangku beton, dan danau yang cukup tenang terus memberikan rasa penasaran, “kok ada tempat syahdu kayak gini, masih di Gresik lagi!” Masuk dalam intervensi karya membuat lanskap ini berubah fungsi menjadi ruang seni yang terbuka. Beberapa karya langsung menarik perhatian.

Ada figur yang digantung di pohon, dibungkus material transparan, memberi kesan tubuh yang tertahan atau ditunda. Di area lain, wheatpaster karya Yohanes Tody ditempel di permukaan bangku menghadirkan gambar yang terasa familiar. Sementara itu, sebuah objek berbahan logam dan paku disusun menjadi bentuk yang cukup agresif secara visual kontras dengan lingkungan sekitar yang cenderung tenang.

Penempatan karya yang menyatu dengan sendang, danau buatan untuk mandi membuat pengalaman melihat menjadi tidak terpisah dari aktivitas sekitar. Pengunjung tidak diarahkan untuk “masuk” ke ruang pamer, tapi justru menemukan karya di tengah aktivitas berjalan, duduk, atau sekadar melihat sekitar.

Teks kuratorial pada giat ini pun juga mengangkat gagasan tentang “nanti kini, juga dinanti”sebuah refleksi tentang waktu, kemungkinan, dan ketidakpastian. Dalam konteks karya yang ditampilkan, gagasan ini terasa relevan, terutama karena tiap karya seperti menawarkan kondisi yang belum selesai, atau setidaknya tidak memberikan jawaban yang final.

Dari pengamatan kami, Chaotic Shift III menawarkan situasi di mana pengunjung bebas menghubungkan pengalaman personal mereka dengan karya yang ditemui. Pendekatan ini membuat pameran terasa cair, sekaligus membuka ruang interpretasi yang luas.

Bagi kami di Artchemist, pengalaman ini menegaskan bahwa ruang dan konteks punya peran besar dalam membentuk cara kita membaca karya. Dan di Menganti, batas antara ruang sehari-hari dan ruang pamer menjadi semakin tipis.

Editor; AHA