

Memasuki kota Gresik kemarin, kami langsung disambut lalu lintas truk berat yang cukup padat. Wajar saja, kota ini dikenal sebagai tempat industri dengan pabrik – pabrik raksasa. Siapa yang menyangka di tengah ritme ini, justru saya menemukan sebuah ruang yang menyuarakan sesuatu yang lembut tanpa pretensi : rasa.
Rasa yang diolah Ria Dinata dalam pameran perdananya “Musim Bunga Telah Tiba” memamerkan sepuluh karya busana dan tujuh karya ilustrasi. Karya-karya ini ia ciptakan selama lebih dari enam bulan dalam sepuluh tahun perjalanannya dalam berkarya. Pastinya, setiap penikmat akan memiliki perspektifnya sendiri. Namun bagi saya, yang juga adalah seorang perempuan, olahan rasa Ria banyak mewakili ekspresi ketubuhan.
Tubuh perempuan mengalami siklus yang berulang terus-menerus, fase menstruasi, folikular, ovulasi, luteal, dan kembali lagi. Pada setiap fase itu, tidak hanya fisik yang mengalami perubahan, namun juga suasana hati. Ketika mengamati rangkaian warna, bentuk, details, embellishment, dan pemilihan jenis kain yang berbeda-beda dalam setiap look di koleksi Ria, karya-karyanya terasa mengikuti siklus itu dengan ekspresi yang cukup nano-nano. Beberapa look terlihat ‘raw’ dengan kepolosannya dan detail yang dibuat unfinished secara sengaja, ada pula yang terlihat merekah dengan segala teknik manipulasi tekstil dari benang-benang yang dipilin. Detail busana pun menjelma bak anatomi bunga, seperti tajuk pamerannya.
Dalam konteks ini, saya melihat busana hadir dalam dua lapis makna. Secara fungsional, tentu ia hadir sebagai pelindung tubuh. Namun pada karya Ria, sandang mewujud sebagai ekspresi, dan justru, ekspresi itulah yang melindungi kita. Hal itu terlihat dari setiap detil dalam koleksi ini: bagaimana sebuah embellishment beads disusun manis dengan porsi yang pas untuk menarik perhatian namun tidak berlebihan untuk sebuah ekspresi personal, bagaimana tali katun tebal dipilin bersama benang bordir tipis dengan komposisi yang kadang harmonis, kadang chaotic, seperti ekspresi yang kita tampakkan dalam setiap fase.
Ada satu yang sangat berkesan di antara sepuluh karya Ria. “Benih Temurun”. Sejak awal saat pembukaan pameran, karya ini memang terasa berbeda. Dari segi kombinasi warna (selain putih), ia yang paling terang. Siluetnya pun menonjol, satu-satunya look yang memiliki kesan rigid di tengah liukan-liukan lentik meski juga tetap tidak kehilangan lekuknya. Karya ini satu-satunya yang tidak menggunakan wastra di antara karya yang menggunakan kombinasi beberapa kain. Pada peragaan busana “Putik Berjalan”, karya ini merupakan karya pembuka yang diperagakan paling awal (Mbak Lili, kamu cocok sekali pakai ini!). Di sini, saya menduga-duga memang ada sesuatu tentang karya ini.
Praduga saya terjawab di sesi artist talk pada malam harinya. Untungnya, tak perlu menunggu berhari – hari untuk menjawab rasa penasaran ini. Ternyata, “Benih Temurun” lahir dari inspirasi perempuan yang sedang berada pada fase ovulasi. Tentu, selain mengalaminya sendiri, dengan latar belakang di bidang Biologi, Ria pasti memahami proses ini di luar kepala. Saat fase ovulasi, tubuh perempuan membuka diri pada kemungkinan – kemungkinan baru. Dalam hal itu, tampak jelas bahwa roknya membentuk lengkungan ke bawah, menyerupai arc yang tersusun simetris dan mengingatkan pada bentuk rahim. Di sisi kanan kiri atasan, terdapat lengan dengan bahan tulle yang mengembang menyerupai ovarium dengan saluran tuba falopi sebagai penghubung.
Saat menulis artikel ini, saya kembali membuka foto-foto karya “Benih Temurun” yang saya ambil saat pameran. Semakin dilihat, karya ini semakin menarik. Bagian dada cape dihiasi embroidery bentuk tangan yang sedang menyentuh gugusan bunga kecil, cantik sekali. Lagi – lagi, terbayang gambaran ini seperti pelepasan benih – benih yang akhirnya menjalar ke bawah.

Karya – karya Ria tidak adil jika hanya kita lihat secara formalis. Kita dapat menyelaminya melalui kacamata fenomenologi tubuh Merleu-Ponty, yang mana tubuh bukan sekedar objek biologis, namun merupakan titik awal yang memaknai sekitarnya. Makna – makna ini tidak datang dari luar tubuh, melainkan dari tubuh itu sendiri, yang sedang berbicara, berekspresi, dan sekaligus melindungi dirinya. Sama seperti karya-karya Ria yang tidak sekedar menjalankan fungsi sandang pada umumnya, mereka juga menjadi perpanjangan dari ekspresi seorang Ria yang ingin didengar sebagai wanita, seniman, dan sebagai manusia yang utuh.

Dengan menyelami karya-karya Ria, menjadi sulit bagi saya untuk setuju sepenuhnya dengan pernyataan Karl Lagerfeld: “Art is art. Fashion is fashion”. Sebab melalui koleksinya, Ria sudah menggugat batas antara fashion dan seni. Koleksinya merupakan busana siap pakai atau ready to wear yang dapat digunakan sehari-hari; namun proses dan konsep pengkaryaannya menjadikan busana lebih dari sekedar objek. Biasanya, saat menonton peragaan busana, mata saya akan tertuju pada pakaian dan keindahannya, tanpa merasa perlu menghadirkan refleksi pribadi atau melibatkan diri dalam proses pemaknaannya. Pada pameran ini karya – karya Ria seakan-akan menyatu dengan tubuh pemakainya, dan ketika karya itu dialihkan ke ruang pamer, mereka membiarkan saya (dan tentu penikmat lainnya) untuk asyik mengaitkan karya-karya itu dengan ingatan dan asosiasi kami sendiri. Bukankah itu karya yang hidup dengan menghadirkan pemaknaan berulang?
Terima kasih Ria, “Musim Bunga Telah Tiba” sudah mengajak saya untuk mengalami setiap seratnya. Saya belajar, bahwa kejujuran itu pun sebuah bentuk perlindungan, karena setiap ekspresi kita layak untuk dirayakan, seperti pada karya-karya Ria Dinata.
Penulis: Christabel Annora
Editor: AHA