ARAK-ARAK : Midnight Haze and The Drifting Flocks #RoadToARJOG2025

19 April 2025, Hari Pembukaan Road to ARTJOG 2025 – ARAK-ARAK : Midnight Haze and The Drifting Flocks yang merupakan srangkaian acara untuk menyambut penyelenggaraan festival utamanya pada tanggal 20 Juni-31 Agustus 2025 di Jogja National Museum, Yogyakarta.. Acara pembukaan tersebut diadakan di Hotel Majapahit, Jl. Tunjungan Surabaya. Para media diberikan penjelasan mengenai acara yang akan berlangsung sebelum di “Arak” menuju lokasi pameran seni. Terdapat lebih dari 20 media yang hadir dalam acara tersebut dan ikut menyambut kedatangan ARTJOG di Kota Surabaya. Mengingat acara yang diadakan di Jakarta sebelumnya sukses besar, harapannya ARJOG yang melakukan kunjungan di Surabaya ini juga dapat menarik perhatian lebih kepada masyarakat Kota Surabaya khususnya kaum mudanya.

Heri Pemad selaku pendiri ARTJOG menyampaikan bahwa ARTJOG berawal dari semangat berkesenian dan kegelisahan akan kurangnya ruang kesenian bagi kaum muda. Salah satu misi ARTJOG adalah bagaimana orang-orang dapat memberikan apresiasi terhadap kesenian yang ada. Hal ini sejalan dengan dipilihnya lokasi Pasar Tunjungan yang sudah 35 tahun terbengkalai sebagai lokasi Instalansi Seni Road to ARTJOG di Surabaya. Karena Pasar Tunjungan dianggap sebagai salah satu lokasi yang sangat bersejarah namun sudah semakin dilupakan. Pasar Tunjungan yang merupakan saksi bisu sejarah perobekan bendera Belanda pada masa penjajahan, dianggap banyak menyimpan memori sejarah dan lokasinya yang di tengah Kota Surabaya, dianggap sebagai jantung kota yang dapat menaruh perhatian lebih bagi warga Kota Surabaya.

Selain itu, Jompet Kusdwidananto, seniman asal Yogyakarta selaku seniman tunggal pada acara ini, mengaku bahwa memiliki keterikatan emosional terhadap Pasar Tujungan dan merasa bahwa karya seninya akan semakin hidup dan menyatu dengan tempat yang sangat besejarah tersebut.  Hal ini juga berkaitan dengan tujuan awal ARTJOG yang ingin mendekatkan seni rupa dan seni apapun kepada masyarakat.

Pameran ini juga menandai berakhirnya Motif Ramalan yang dilakukan oleh ARTJOG. Motif Ramalan yang terdapat di ruangan seni Pasar Tunjungan merupakan gambaran sejarah pergerakan mahasiswa, buruh tani, dan kaum muda yang melakukan pemberontakan terhadap kebijakan pemerintah di Tahun 1988. Seni yang disajikan tidak lepas dari sejarah Kota Surabaya yang juga dikenal sebagai kota yang memiliki anak-anak muda yang berani melawan dan memberontak kebijakan pemerintah di masa Hindia Belanda. Dalam sejarah ruang dan waktu, Jompet berhasil menciptakan karya seni yang tehubung langsung dan membuat hidup lokasi bersejarah yang sudah lama ditinggalkan. Mulai dari pemberontak dari kaum tani, sejarah yang terulang, hingga perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Pada pameran ini sangat erat dengan suara “drumb” hal ini merupakan salah satu simbolis suara gemuruh perlawanan bagi masyarakat terhadap kebijakan yang ada. Mulai dari pengiringan media menuju lokasi instalansi seni, pembukaan, hingga setiap karya seni, tidak lepas dari “drumb” yang sedang ditabuh. Pameran ini diharapkan dapat mendekatkan warga Surabaya terhadap sejarah yang ada dengan karya seni. Dengan adanya karya seni yang menggambarkan perjuangan pendemo di masa lalu, maka akan mengingatkan kita kepada perjuangan orang-orang di masa lalu dan dapat belajar dari sejarah.

-Dinda Kasfiyah