Emanasi: Membaca Cahaya dalam Lukisan Amang Rahman di Orasis Art Gallery

 

Jumat pekan lalu, ketika berkunjung ke pameran Emanasi karya Amang Rahman dengan rasa ingin tahu yang cukup besar, terutama karena isu “cahaya” yang diangkat terasa kuat sejak memasuki ruang galeri. Dinding pembuka langsung menjelaskan bahwa karya-karya Amang Rahman berangkat dari gagasan emanasi dimana gagasan bahwa segala sesuatu memancar dari satu sumber dan tetap terhubung dengannya. Konsep ini memberi kerangka awal untuk membaca keseluruhan pameran.

Di dalam ruang pamer, pendekatan visual Amang Rahman sangat konsisten. Banyak karya menghadirkan figur, bentuk kaligrafi, dan abstraksi yang seolah muncul dari pancaran terang di dalam bidang lukisan. Cahaya di sini tidak diperlakukan sebagai efek dramatis semata, tetapi sebagai struktur visual yang membangun komposisi. Beberapa karya terasa padat dan berlapis, sementara karya lain memberi ruang kosong yang cukup luas sehingga sorotan cahaya terlihat lebih dominan. Perbedaan ritme ini membuat pengalaman melihat pameran terasa dinamis.

Sebagai bagian dari ekosistem seni Jawa Timur, kami melihat pameran ini menarik karena menghadirkan pendekatan spiritual dan konseptual dengan bahasa visual yang tetap komunikatif. Pengunjung dari berbagai latar tampak bisa masuk ke dalam karya tanpa harus membaca teori terlalu jauh terlebih dahulu. Banyak yang berhenti cukup lama di depan lukisan, mencoba mengikuti arah cahaya, membaca bentuk, atau mendiskusikan detail kaligrafi yang muncul di beberapa bidang.

Kami juga menangkap bahwa pameran ini dirancang sebagai ruang refleksi terhadap cara pandang seniman terhadap kehidupan. Narasi yang disampaikan tentu tidak terasa menggurui karya justru memberi ruang interpretasi bagi pengunjung. Ada yang memaknainya sebagai refleksi religius, ada yang melihatnya sebagai eksplorasi estetika cahaya, dan ada pula yang membaca karya sebagai perjalanan personal seniman dalam memahami hubungan manusia dengan sumber kehidupannya.

Dalam konteks perkembangan seni rupa di Jawa Timur, pameran ini memperlihatkan bagaimana tema-tema filosofis tetap dapat hadir dengan pendekatan visual yang relevan dengan generasi sekarang. Bahasa visual yang tegas, penggunaan warna yang terukur, serta konsistensi gagasan membuat karya-karya Amang Rahman terasa memiliki identitas yang jelas sekaligus mudah dikenali.

Bagi kami team Artchemist, kunjungan ke Emanasi menjadi pengalaman yang mengingatkan bahwa pameran seni tetap memiliki peran penting sebagai gagasan, tempat seniman menyampaikan pandangannya, dan publik memberi respons melalui pengalaman melihat secara langsung. Di tengah dinamika pergerakan seni Jawa Timur yang terus berkembang, pameran seperti ini memperlihatkan bahwa dialog antara konsep, teknik, dan pengalaman sosial masih menjadi fondasi utama dalam praktik seni visual hari ini.