A Beautiful World • Menghubungkan Seni, Kasih, dan Kemanusiaan

 

 

A Beautiful World • Menghubungkan Seni, Kasih, dan Kemanusiaan

Kenapa minggir, Kak? Aku nggak berduri kok, nggak nusuk!”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut bocah itu. Tajam, tapi dengan nada yang begitu lugu. Kedua matanya yang lebar menatap lurus ke arahku. Aku tergagap, buru-buru meminta maaf. Entah kenapa tubuhku bergeser ketika ia duduk di sampingku, seperti refleks.

Sudah bertahun-tahun lamanya aku bertetangga dengan rumah nomor 22. Tak pernah ada alasan untuk benar-benar peduli. Tak pernah melangkah ke dalam terasnya. Tak pernah menyapa dan bersilaturahmi. Bahkan ketika ambulans berlalu-lalang, aku hanya menutup jendela dan melanjutkan hidup, seakan tak terjadi apa-apa. Baru sekarang, hujan memaksa kami berbagi ruang—aku dan bocah kecil ini, yang sekarang sibuk menata bunga-bunga liar di depannya, satu per satu.
“Bunga itu buat siapa?” tanyaku, sekadar mencari bahan obrolan untuk memecah hening.

Buat Fira! Dia lagi sakit,” ceritanya penuh semangat “Fira bilang, nanti kalau sudah besar, dia bakal punya taman yang luas. Seluas.. ini!” Kedua tangannya terbuka lebar, seolah ingin menggambarkan taman raksasa yang hanya ada dalam benaknya.


Nanti kalau sudah besar…” gumamku, mengulang kata-katanya. Tapi pikiranku terseret kembali ke rumah nomor 22. Tak pernah aku melihat remaja di sana, hanya anak-anak kecil berseragam merah-putih, datang dan pergi. Begitu terus menerus, tahun demi tahun. Bagaimanapun, bocah ini tak tampak gentar membayangkan masa depan. Barangkali mereka hanya menginginkan hidup yang biasa-biasa saja. Sesederhana bermimpi tanpa beban. “Kalau kamu, cita-citanya apa?”
“Aku mau terbang! Keliling dunia!” sahutnya cepat.
“Maksudnya, jadi pilot?”

“Bukan, Kak. Aku mau punya sayap! Kayak kupu-kupu, atau burung. Kata temanku, awan itu rasanya kayak permen kapas!” Dia menggerakkan tangannya seperti sayap yang mengibas, larut dalam imajinasi. “Aku mau naik ikan raksasa, main sama ubur-ubur di bawah laut. Seru, kan?”

Terkekeh, aku mengangguk. Takjub dibuatnya. Percakapan ini begitu asing—sudah lama tak kurasakan. Rasanya, pikiranku hanya berkutat pada meja kantor kecil yang menungguku setiap pagi. Sejak kapan aku berhenti bermimpi? “Kamu bikin aku sadar, aku nggak punya cita-cita.”
Bocah itu memandangku, ikut berpikir keras. “Pasti ada, kak. Semua orang pasti punya. Kalau Kakak bisa ke mana aja, mau ke mana?”

 

”Hmm..” Aku mengingat-ingat kapan terakhir aku merasa bahagia. Ah, andai kebahagiaan bisa dibeli di toko kelontong. Akhirnya, aku menjawab asal, “Mungkin ke pantai.”
Dia tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang renggang. “Kakak beli pantai aja! Pantai yang besaaar! Terus, tanam pohon kelapa yang banyak, biar bisa minum degan tiap hari!”
Aku tergelak-gelak. “Iya, ya. Nanti aku bikin rumah di tepi pantai. Eh, bukan cuma rumah. Pantainya juga, aku yang punya.” Aku berhenti sejenak, membayangkan pemandangan itu. “Setiap sore aku bisa ajak keluargaku piknik, makan buah-buahan segar. Kamu jangan lupa datang, naik ikan raksasa!”

Dia tertawa. Tak terasa, hujan sudah reda. Bocah itu mulai membereskan bunga-bunganya, menyusunnya hati-hati dalam genggaman. Sebelum pergi, dia menatapku sebentar, lalu mengulurkan satu bunga. “Yang ini buat Kakak aja.”
Aku menerima bunga itu, sedikit bingung. “Terima kasih, ya.”

“Dadah, Kak! Besok-besok main ke rumah, ya!” katanya, melompat ke atas sepedanya.
Aku mengangguk, melihatnya mengayuh sepeda melewati genangan air. Aku hampir bisa bersumpah, sepedanya melayang melewati pelangi yang tergantung di ujung s

– Eugenia –

Langit Surabaya tampak mendung di penghujung November, namun satu sudut kecil di pusat kota justru memancarkan kehangatan. Sebuah ruangan sederhana berubah menjadi ruang penuh warna, dindingnya dipenuhi deretan poster dengan nuansa cerah dan energik. Inilah pameran amal “A Beautiful World”, sebuah inisiatif kreatif yang digagas dan dikurasi oleh Artchemist, menampilkan karya dari 15 seniman Surabaya.

 

Tentang Yayasan Abdi Asih Surabaya

Pembukaan pameran yang berlangsung pada Sabtu, 30 November 2024, bukan sekadar pertemuan seni. Kehadiran para pengunjung menjadi simbol kepedulian. Mereka datang tidak hanya untuk menikmati estetika poster, tetapi juga untuk mendukung sebuah misi kemanusiaan: memberikan secercah harapan bagi anak-anak yang dinaungi Yayasan Abdi Asih.

Melalui pameran ini, Artchemist tidak hanya mengajak pengunjung untuk menikmati karya visual, tetapi juga membuka percakapan tentang empati dan kesadaran. Setiap poster adalah cerita, setiap karya adalah pesan tentang kehidupan yang layak dirayakan, sekalipun dalam keterbatasan.

Hasil dari penjualan karya seni dan donasi pengunjung akan disalurkan langsung untuk mendukung keberlangsungan Yayasan Abdi Asih. Dengan cara ini, seni bukan hanya milik ruang pamer, melainkan juga alat untuk menyentuh kehidupan.

Seni adalah bahasa universal yang mampu menghubungkan hati manusia. Melalui pameran ini, kami ingin mengajak publik melihat bahwa kebaikan bisa datang dari mana saja, termasuk dari sebuah karya poster,”Eugenia

 

Inilah kilas balik pameran A Beautiful World berlangsung hingga 7 Desember 2024 tahun lalu. Setiap kunjungan, setiap dukungan, adalah langkah kecil yang berarti besar. Karena dunia yang indah bukan sekadar konsep, tetapi sesuatu yang bisa kita ciptakan bersama.

Lokasi: Ruang Aiola Eatery
Periode Pameran: 30 November – 7 Desember 2024
Dikurasi oleh: Eugenia dari Artchemist
Bekerja sama dengan: Yayasan Abdi Asih