“Ke Touch Up Tancap” menjadi ruang bertemunya pelaku seni lintas disiplin di Jawa Timur

Kalau biasanya acara screening film cuma nonton dilanjut diskusi, event satu ini beda. Bisa dibilang visioner saking kerennya!

Selama pandemi covid-19 kemarin mulai banyak kemunculan film-film pendek sebagai tontonan mayoritas orang di saat Mereka sedang bosan di rumah, selain bermunculan film-film lama yang underrated yang kemudian menjadi perbincangan banyak orang mulai banyak juga film-film yang tercipta dari komunitas indie yang sudah lama ada maupun yang baru.

Di sisi lain, selama pandemi covid-19 kemarin juga membuat banyak seniman yang kehilangan ruang untuk berekspresi, salah satunya seniman teater. Para pelaku teater merasakan beratnya kehilangan panggung sebagai ruang untuk berekspresi. Komunitas indie atau rumah produksi lokal sekali pun masih sering mengalami kesulitan dalam mencari talent ketika akan memproduksi sebuah film. Fenomena yang sering terjadi pada saat sebuah rumah produksi membuka casting yang datang untuk mengikuti casting secara mayoritas bukan dari pelaku teater.

Hal tersebut dapat terjadi karena salah satu faktornya ialah informasi yang tidak sampai ke telinga para pelaku teater karena sebelumnya tidak pernah bersinggungan secara langsung maupun daring entah dalam proses kreatif maupun yang lain dengan pihak rumah produksi. Fenomena-fenomena yang telah dipaparkan tersebut merupakan kegelisahan dari seorang bernama Habib Alamsyah salah seorang pelaku seni yang aktif di kolektif seni bernama Artchemist. Sebuah kolektif seni yang berbasis di Surabaya dan aktif di bidang lintas disiplin seni.

Habib Alamsyah atau akrab disapa Habib ini menuturkan bahwa dirinya cukup prihatin dengan industri film lokal di Jawa Timur, dia kerap melihat para pelaku kesenian teater terlebih yang fokus dengan keaktoran susah mendapat ruang ketika pandemi covid-19 kemarin dan kurang mendapat ruang untuk mengeksplorasi dirinya di depan kamera. Lalu, seringnya rumah produksi yang kurang mengeksplor individu-individu berbakat dalam seni peran karena kurangnya referensi dan relasi. Berangkat dari kegelisahan yang Habib perhatikan dan dengarkan dari beberapa kawannya membuat dirinya untuk melangkah menciptakan suatu gerakan kecil tetapi nyata untuk ekosistem perfilman di Jawa Timur.

3 film yang diputar tersebut meliputi Suaka Padma karya Kinne Komunikasi dari Surabaya dan disutradarai oleh Wahyu Pratama yang bercerita tentang perempuan yang harus menerima kenyataan pahit ketika berusaha membela dirinya, kemudian ada Pecel Plus Plus karya Enam Belas Plus dari Jember yang disutradarai oleh Farhan Suryo ini bercerita tentang Lastri yang telah lama merantau ke kota dan harus pulang ke kampung untuk meneruskan usaha pecel milik mendiang bapaknya setelah meninggal, dan film yang terakhir yaitu Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) karya Eka Kecap dari Sidoarjo yang bercerita tentang sisi lain kehidupan di atas bis.

Setelah 3 film tersebut diputar dan disaksikan dengan seksama maka dimulailah sesi ramah tamah atau lebih sering disebut diskusi bersama para sutradara yang dipandu oleh Habib dan Ateng. Para sutradara menjelaskan secara singkat alasan terciptanya karya Mereka masing-masing serta proses kreatif Mereka dalam memproduksi sebuah film yang secara spesifik adalah film-film yang diputar di acara Ke Touch Up Tancap ini.

Eka Kecap, seorang sutradara dari Sidoarjo juga menyampaikan bahwa acara ini adalah acara yang cukup menarik, dia juga menarik kesimpulan bahwa sudah waktunya industri kreatif di Jawa Timur ini khususnya di bidang perfilman untuk bangkit bersama-sama dengan menciptakan ekosistem yang baru dari komunal-komunal yang telah berjumpa di acara Ke Touch Up Tancap ini, karena dugaannya adalah industri kreatif bidang film ini yang lebih terpusat di Jakarta rasa-rasanya semakin lama semakin menuju ke timur, maka dari itu sudah waktunya para sineas di Jawa Timur untuk melepas gengsi dan bersama-sama membangun ekosistem yang lebih baik untuk tumbuh bersama.

Ada hal yang mengejutkan di acara Ke Touch Up Tancap ini, yaitu pada saat diskusi berlangsung seorang mahasiswa jurusan ilmu komunikasi dari Universitas Ciputra menawarkan diri berkolaborasi atas nama institusinya dengan kolektif Artchemist untuk mengadakan festival film yang akan diinisiasi oleh jurusan ilmu komunikasi Universitas Ciputra, sontak tawaran tersebut diterima dengan baik dan akan diobrolkan secara mendalam setelah event ini selesai.

Respon masyarakat Surabaya dan sekitarnya dengan event ini ternyata juga cukup baik, terbukti ada sekitar 110 pengunjung yang datang, bahkan Habib sendiri terkejut karena acara yang dia inisiasi ini di luar ekspektasi, mendapat respon yang sangat hangat dari masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Meskipun tempat yang disediakan tidak terlalu luas tetapi antusiasme pengunjung tidak padam sampai acara Ke Touch Up Tancap ini usai para pengunjung masih sangat antusias.

Ke Touch Up Tancap ini dapat menjadi suatu tonggak awal dari pergerakan kesenian terutama di bidang film maupun teater di Jawa Timur, karena berawal dari event ini banyak orang yang seharusnya bertemu telah dipertemukan dengan sengaja maupun tidak sengaja, dan diharapkan Ke Touch Up Tancap ini tidak berhenti di sini saja tetapi terus menerus hadir dan Artchemist dapat menjadi jembatan bagi pelaku seni teater, film atau bahkan yang lain untuk tumbuh bersama serta memajukan industri kreatif di Jawa Timur.