Putu Wardhani dan Cara Melihat Benda Sehari-hari sebagai Medium Seni

Berkenalan dengan Putu Wardhani, baginya medium untuk berkarya bisa ditemukan dari benda-benda yang ada di sekitar. Kopi, buah, cangkang telur, sandal, hingga roti meses menjadi bagian dari eksplorasinya sebagai visual artist dan illustrator.

Putu saat ini juga bekerja sebagai staff kependidikan di DKV Universitas Ciputra dan sedang melanjutkan studi di Pascasarjana ISI Bali. Di tengah aktivitas tersebut, ia terus mengembangkan praktik seni dengan mengeksplorasi berbagai material alternatif dan mengolahnya menjadi karya dengan gagasan yang ia bangun.

“Bagi saya ada banyak sekali medium di sekitar yang memiliki nilai yang tak kalah menariknya untuk menjadi sebuah karya seni rupa,” ujar Putu.

Ide Bisa Datang dari Deadline dan Keresahan

Ketika ditanya dari mana biasanya ide karya muncul, Putu punya jawaban yang cukup sederhana.

“Deadline paling banyak sih, tapi kalau resah banget ya bikin karya. Kebetulan akhir-akhir ini pada resah terus semua,” katanya sambil bercanda.

Bagi Putu, keresahan bisa menjadi pemicu untuk mulai mengolah sebuah gagasan menjadi karya. Hal-hal yang terjadi di sekitar kemudian diterjemahkan melalui visual dan pilihan medium yang sesuai.

Salah satu karyanya menggunakan sandal sebagai medium untuk membuat portrait seorang koruptor. Material yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari tersebut kemudian dipertemukan dengan isu sosial dan politik, menciptakan karya yang terasa satir sekaligus mengundang penonton untuk melihat kembali objek yang familiar dari sudut pandang berbeda.

Tantangan Justru Datang Setelah Karya Selesai

Menariknya, bagian yang paling sering membuat Putu stuck justru terjadi setelah karya selesai.

Ia mengaku cukup kesulitan ketika harus menulis caption atau deskripsi karya. Baginya, narasi menjadi bagian penting karena perlu mempertimbangkan bagaimana karya akan diterima dan apa dampaknya bagi publik.

Pengalaman tersebut terasa ketika ia membuat portrait koruptor di atas sandal. Setelah visual selesai, tantangan berikutnya adalah menemukan cara yang tepat untuk menjelaskan karya tersebut.

Ketika mulai buntu, Putu biasanya memilih untuk mengambil jarak dari pekerjaan. Jalan-jalan atau ngobrol dengan teman menjadi caranya untuk mendapatkan perspektif baru.

Dari proses tersebut, ia menemukan pendekatan satire sebagai salah satu cara untuk menyampaikan kritik.

“Hasilnya ya memuji-muji mereka, objek koruptor tersebut. Satire tapi tetap kena,” ujarnya.

Membawa Kopi ke Ruang Kelas

Pada Juni lalu, Putu menyelesaikan pameran tunggal bertajuk AMBARASA NUSANTARA di Kota Malang.

Setelah pameran tersebut, eksplorasinya berlanjut ke ruang pendidikan. Putu berencana mengadakan workshop di sejumlah sekolah di Kediri, Banyuwangi, Solo, dan Semarang untuk mengenalkan kopi sebagai salah satu medium dalam membuat karya seni rupa.

Pilihan kopi sebagai medium menarik karena material tersebut sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui workshop, Putu ingin membuka kemungkinan bahwa proses berkarya dapat dimulai dari material yang sederhana dan mudah ditemukan.

Praktik Putu memperlihatkan bagaimana sebuah benda dapat memperoleh konteks baru ketika dipertemukan dengan gagasan dan proses kreatif. Kopi, sandal, cangkang telur, buah, maupun benda lainnya dapat menjadi titik awal untuk mengeksplorasi bentuk, cerita, dan cara menyampaikan pesan.

Dari sana, proses berkarya Putu terus bergerak: mengamati benda-benda di sekitar, menemukan kemungkinan di dalamnya, lalu mengubahnya menjadi bahasa visual.

#ArtistOfTheWeek #ArtchemistID #PutuWardhani #VisualArtist #Illustrator #SeniRupa #AlternativeMedium

 

editor: AHA