Merayakan Kemerdekaan dari Lingkungan Terdekat

Pos Kamling sesudah di mural dengan cat AGA

Ketika semangat terasa lagi diuji tahun ini untuk mengibarkan bendera merah putih, ternyata memberi warna di kampung sendiri bisa jadi cara sederhana untuk mengingat bahwa rasa memiliki Indonesia tumbuh dari lingkungan yang paling dekat.

Buat kami, salah satu hal paling menarik dari mengerjakan mural di ruang publik adalah melihat bagaimana sebuah tembok bisa mempertemukan orang-orang yang tinggal di sekitarnya.

Saat pertama datang, tembok yang akan dicat ya cuma tembok. Ada yang lewat sambil melihat, ada yang bertanya, ada juga yang penasaran sebenarnya kami sedang membuat apa. Begitu proses pengecatan dimulai, perlahan warga mulai ikut memperhatikan. Anak-anak datang melihat gambar, beberapa orang ikut ngobrol, sementara yang lain sekadar berhenti sebentar untuk melihat perubahan yang terjadi.

Dari situ kami merasa bahwa mengecat kampung bukan cuma soal mengubah warna tembok. Ada proses mengajak warga untuk kembali berkumpul, berdiskusi, bekerja bersama, dan menciptakan sesuatu untuk lingkungan mereka sendiri.

Hal ini yang kemudian membuat kami tertarik dengan Lomba Cat Kampung AGA.

Pos Kamling Sebelum di cat

Tahun ini, AGA menggandeng Artchemist dengan seniman Deden S Yogi (@hynedss) mengajak masyarakat Indonesia mengikuti lomba bertema “Satu Kampung, Penuh Warna”. Pesertanya bisa berupa warga RT/RW, Karang Taruna, komunitas, maupun kelompok warga dengan minimal empat orang.

Area yang dicat juga cukup fleksibel. Bisa berupa gang, gapura, lapangan, tembok warga, pos ronda, maupun fasilitas umum lainnya.

Buat kami, momen ini terasa cukup relevan dengan suasana kemerdekaan tahun ini. Mungkin semangatnya tidak selalu datang dalam bentuk perayaan besar. Kadang, rasa merayakan Indonesia bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana: berkumpul dengan tetangga, memperbaiki lingkungan, dan membuat ruang tempat kita tinggal terasa lebih hidup.

Karena pada akhirnya, kemerdekaan juga punya wajah yang sangat dekat dengan keseharian kita. Ada di kampung, di gang tempat anak-anak bermain, di pos ronda tempat warga berkumpul, dan di ruang-ruang yang kita gunakan bersama.

Dan ternyata, tidak perlu menunggu punya tim besar atau kemampuan menggambar yang hebat untuk memulainya. Yang dibutuhkan adalah ide, beberapa orang yang mau ikut bergerak, dan satu ruang yang ingin kalian ubah.

Melalui Lomba Cat Kampung AGA “Satu Kampung, Penuh Warna”, periode lomba berlangsung 25 Juli–25 Agustus 2026. Peserta wajib menggunakan produk Cat AGA dalam proses pengecatan dan mendokumentasikan proses sebelum, saat, hingga hasil akhirnya.

Jadi, kalau di sekitar rumah kalian ada tembok, gang, pos ronda, gapura, atau sudut kampung yang sudah lama ingin dipercantik, mungkin sekarang waktunya mengajak tetangga ikut turun tangan.

Ajak warga kampungmu. Tentukan areanya. Cari ide warnanya. Lalu mulai mengecat.

Karena mungkin, di tengah semangat yang terasa berbeda tahun ini, memberi warna pada kampung sendiri adalah salah satu cara sederhana untuk tetap merayakan Indonesia.

Siapa tahu, tahun ini kampungmu yang pulang membawa hadiah dari Lomba Cat Kampung AGA yakni “Satu Kampung, Penuh Warna”.

 

editor: AHA