Surabaya bukan kota yang diam-diam. Ia lantang, terbuka, suka menantang, dan entah kenapa kadang terasa terlalu serius. Ya ampun rush banget!
Jalanan padat, ide-ide bergerak cepat, dan ambisi berkeliaran bak warung yang enggak pernah tutup. Semua orang sibuk. Semua tempat penuh. Semua waktu terasa mepet. Di antara semua itu, ada kita warga, seniman, pemimpi, pekerja seni yang coba hidup, sambil terus bertanya: “Sebenarnya kota ini bisa denger enggak, sih?”
Ada semacam ironi yang pelan-pelan jadi rutinitas:
Kota ini penuh kampus seni, tapi minim ruang ekspresi. Lalu, penuh suara, tapi sedikit yang didengar. Banyak tempat baru, tapi sedikit yang benar-benar terbuka.
Surabaya seperti punya dua wajah, yang satu formal, resmi, strategis, berpakaian rapi. Yang satu lagi liar, nyeleneh, spontan, dan kadang enggan masuk acara besar. Dua wajah ini sering tabrakan, tapi justru dari benturan itu, seni sering lahir. Kadang di tengah jalan, kadang di pojok kafe, kadang di ruang keluarga.
Karya yang Lahir dari Lelah
Surabaya tidak kekurangan ide. Tapi banyak ide tumbuh dari lelah. “pegel banget ta esh?” Lelah menghadapi sistem yang ketat. Lelah bekerja di luar minat. Lelah melihat berita yang makin absurd. Maka seni di kota ini bukan cuma soal keindahan. Tapi soal bertahan. Kita melihat teman-teman bikin zine sambil lembur kerja kantoran. Bikin pertunjukan dari tabungan pribadi. Pameran di rumah kos sampai workshop di halaman rumah. Cuk!
Mereka berkarya bukan untuk prestise, tapi untuk napas. Untuk melawan rasa sesak yang kadang tak bisa disampaikan lewat kata biasa. Karena tidak semua bisa disuarakan lewat pidato tapi kayak gitu kadang butuh kolase, instalasi, tarian, dan musik noise. Yagak sih?
Kota yang Punya Banyak Ruang Tapi Sedikit Waktu
Kota ini tidak kekurangan gedung. Tapi kadang kekurangan waktu untuk berhenti. Untuk mendengar. Untuk melihat. Ruang-ruang alternatif justru lahir karena ketiadaan: karena sewa gedung terlalu mahal, karena birokrasi rumit, karena tak semua gagasan bisa dibungkus rapi seperti proposal. Maka jangan heran kalau yang paling jujur justru lahir dari ruang-ruang pinggiran. Di sana kita melihat keberanian yang tidak diminta. Eksperimen yang tidak mencari validasi. Dan dialog yang tidak menunggu moderator.
Di situ, seni jadi hal yang cair. Ia bukan “acara,” bukan “agenda,” tapi napas. Hal yang terus dihidupkan meski tak selalu terlihat.
Jadi, Kota Ini Serius Tentang Apa?
Mungkin Surabaya memang kota yang serius. Serius bekerja. Serius bangun tol. Serius kejar target. Tapi juga serius mencintai lewat seni.
Ia mencintai lewat mural yang tiba-tiba muncul di tembok lapuk. Lewat pertunjukan kecil di garasi. Lewat puisi yang diketik di kolom caption. Kalau kita mau jujur, banyak dari kita hidup berdampingan dengan keresahan. Tapi di Surabaya, keresahan itu sering berubah jadi panggung yang dari situlah seni tumbuh di antara tawa yang tertahan, emosi yang tak sempat diluapkan, dan mimpi-mimpi yang terlalu absurd untuk dipresentasikan di ruang rapat. Jadi, kalau peghel enaknya ngapain?
Common People – M