

Bagaimana jika iklan yang sering kita temui dari judi online, pinjaman kilat, hingga konten sensual diangkat menjadi karya seni? Inilah yang dihadirkan Theo Nugraha bersama aldooink dalam proyek IMPOSTER (2025). Berangkat dari riset daring, mereka mengumpulkan puluhan iklan dari berbagai situs Indonesia, meneliti estetika “ngejreng, norak, berlebihan, dan kampungan” yang ternyata memiliki strategi visual yang sangat kontekstual.
IMPOSTER adalah bayang-bayang KUNSTSURFER, sebuah ruang seni berbasis peramban. Layaknya iklan yang tiba-tiba muncul saat kita berselancar di internet, karya audiovisual ini juga akan muncul secara acak di layar kita sebagai pengguna internet. Anggap saja ini adalah gangguan rutinitas online sehari-hari dan mengajak berpikir tentang bagaimana algoritma, iklan, dan manipulasi visual mempengaruhi cara kita melihat dunia digital.
Proyek warna mencolok, teks yang berkedip, dan suara bising diolah menjadi komposisi artistik yang mengajak kita mempertanyakan relasi antara seni, teknologi, dan kapitalisme digital di Asia Tenggara. Mari berkenalan dengannya!
Tentang Theo Nugraha • Samarinda, 1992
Theo Nugraha adalah seorang seniman multidisipliner yang dikenal sebagai salah satu pionir dalam skena suara eksperimental di Indonesia. Sejak 2013, ia aktif menciptakan karya yang melintasi batas media mulai dari audio, visual, hingga performans. Dengan hampir 200 rilisan musik di bawah namanya, Theo menjelajah dunia kebisingan (noise) dan eksperimen suara, menghadirkan karya yang menantang persepsi pendengaran dan pengalaman ruang.
Selain berkarya di ranah audio, Theo juga mengeksplorasi visual culture dan fenomena digital. Karya terbarunya, “Imposter” (2025), yang dibuat bersama aldooink, menyoroti estetika iklan digital Indonesia membongkar bagaimana manipulasi visual dan algoritma membentuk lanskap internet kita. Ditampilkan melalui Kunstsurfer, pameran ini hadir bukan di ruang galeri, melainkan menyelinap di layar pengguna, meniru logika iklan online yang menjadi subjeknya.
Saat ini, Theo aktif sebagai kurator di Rumah Adat Budaya Daerah Kota Samarinda dan anggota tim editorial Visual Jalanan, sebuah platform yang menyoroti budaya visual yang berhubungan dengan isu sosial. Dalam setiap karyanya, Theo selalu mengajak audiens untuk melihat ulang hubungan antara teknologi, budaya, dan tubuh manusia dalam lanskap digital yang kian kompleks. Ikuti banyak karya Theo untuk bentuk apresiasi kita dan berselancarlah dengan media sosial di Instagram @theonugraha atau eksplorasi rilisan musiknya di Bandcamp miliknya.
Editor: AHA