
Search Imageby: Pinterest | By Athaya Prita Belia
“AI (Artificial Intelligence) sekarang bisa bikin ‘seni’ dengan hanya bayar, masukkin foto, dan udah deh! Jadi!”, Inilah salah satu komentar yang saya baca di media sosial tentang maraknya “seni AI”.
Ditengah menjamurnya “Seniman AI” yang banyak ditaruh dengan bangganya di bio Instagram seseorang, seni AI, dan segala polemiknya, hadir pertanyaan-pertanyaan penting: Apakah itu seni? Apakah masih perlu menggambar dengan tangan kalau hasil instan bisa kita beli? Lalu, bagaimana dengan seniman?
Di saat yang sama, saya merasa ini adalah wake-up call untuk para seniman. Wake-up call ini seperti alarm yang nyaring untuk para seniman maupun mereka yang menyukai proses penciptaan dan menuangkan ekspresi diri dalam karya.
Seniman ataupun mereka yang menyukai menuangkan ekspresi diri dalam karya selama ini selalu dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan dalam benak mereka sendiri. Adanya sosial media, di mana gratifikasi instan seperti like dan view, membuat mereka kerap mempertanyakan kualitas seni mereka. Jumlah like, view, maupun komentar menjadi tolak ukur para seniman tentang kualitas seni mereka saat mereka mengunggah seninya di sosial media. Kualitas karya diukur dari seberapa cepat algoritma menyukainya, bukan tentang pembuatannya
.
Padahal, seni itu bukan tentang kualitas maupun dari angka. Seni adalah ekspresi diri dari keraguan, keresahan, cinta, luka, dan keberanian. Ia tidak bisa diukur secara kualitas maupun kuantitas like, view, komentar, dan lainnya. Menurut saya, semua seni itu bagus.
Sosial media membuat seniman ini kurang percaya diri dengan apa yang mereka buat sehingga banyak dari mereka lebih memilih untuk mundur dan tidak membuat karyanya lebih visible.
Lalu, hadirlah teknologi AI. Dengan kemudahan hanya unduh aplikasi, bayar murah, memasukkan foto yang diinginkan ataupun tulis prompt, selesailah “seni”nya. Bagi beberapa orang, AI tampak seperti jawaban. AI membantu mereka karena tak perlu bayar mahal ke ilustrator, dan tak perlu belajar menggambar. Little did they know, mereka sebenarnya memberi input untuk data AI tersebut saat menyetor wajah, gaya, maupun referensi ke mesin. Input jadi data, data jadi latihan. Lalu, AI bisa menjadi bumerang bagi kita: mereka dapat menciptakan karya yang mirip milikmu tanpa pernah menyebut namamu atau menggunakan foto selfiemu menjadi foto yang tidak kamu inginkan. Apa kamu rela? Bahkan, algoritma kini dapat membuat programmer kewalahan.

Hadirnya AI ini juga menjadi wake up call untuk seniman maupun mereka yang menyukai membuat seni. AI mampu meniru kita. Namun, ia tak bisa meniru luka, cinta, garis, perasaan. Bahkan, lihat saja “seni” dari AI: Dari jari tangan yang tiba-tiba jadi enam atau tujuh, garis yang lebih kaku dan robotik, ekspresi yang kosong, dan latar yang janggal. “Seni” AI itu sangat sempurna, sampai-sampai tak terasa manusiawi. Bagaimana tidak, mesin tidak punya jiwa, kan?
Untukmu, para seniman atau kamu yanag suka mencoret-coret dan menggambar, ini saatnya melawan AI dengan senimu sendiri. Ambillah pensilmu atau buat karya di aplikasi favoritmu baik di Adobe, Procreate, Powerpoint, Canva dan lainnya, mulailah berkarya. Tak usah takut tak disukai, tak usah malu jika tak viral. Karya yang kamu buat dengan hati tak bisa ditiru mesin karena ia punya jiwamu.
Jadi, buatlah karyamu sekarang!
Editor:AHA