
Ada hal yang menarik dari Where Traces Linger: Jejak yang Mendekap ketika melihatnya dari Jawa Timur.
Pameran ini membawa arsip fotografi Peru dari rentang 1890–1950 ke Surabaya. Di dalamnya ada lanskap, masyarakat adat, perubahan sosial, dan potret kehidupan Peru yang direkam oleh sejumlah fotografer. Di antara arsip tersebut, hadir karya Sultan Putra Gemilang, seniman asal Sidoarjo, melalui Meratap di Antara Tanah: Elegi atas Kehancuran.
Pertemuan ini menarik karena Sultan tidak datang dengan cerita tentang Peru. Ia membawa persoalan yang sudah lama muncul dalam praktiknya: apa yang terjadi ketika sebuah sejarah meninggalkan benda-benda yang rusak, hilang, atau tidak lagi utuh?
Dalam Meratap di Antara Tanah, peti, fragmen patung, gambar, kaca, dan debu digunakan untuk membangun situasi antara reruntuhan dan arsip. Karya ini sebelumnya telah dibaca sebagai refleksi tentang kehancuran situs sejarah dan bagaimana generasi berikutnya berhadapan dengan sisa-sisa sejarah tersebut.
Di Where Traces Linger, persoalan itu kemudian bertemu dengan arsip Peru.


Di satu sisi, kita melihat fotografi sebagai alat untuk menyimpan ingatan: lanskap, masyarakat, pakaian, aktivitas sehari-hari, sampai perubahan sosial. Di sisi lain, karya Sultan mengajak melihat benda-benda yang tersisa setelah sesuatu mengalami kehancuran.
Foto menyimpan apa yang pernah ada. Karya Sultan mempertanyakan apa yang tersisa setelahnya.
Di titik ini, keberadaan seniman Jawa Timur dalam pameran tersebut menjadi menarik untuk diperhatikan. Sultan lahir di Sidoarjo pada 1998 dan menempuh pendidikan Seni Rupa Murni di Universitas Negeri Surabaya. Praktiknya memang banyak bersinggungan dengan memori, sejarah, ruang sosial, dan pengalaman sehari-hari.
Ia juga tidak asing dengan kerja berbasis konteks. Dalam residensi Roots & Rhythms di Driyorejo, Gresik pada 2024, misalnya, Sultan mengembangkan karya melalui riset dan percakapan dengan lingkungan tempat ia bekerja. Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana praktiknya bergerak dari pengamatan terhadap tempat dan pengalaman sosial menuju karya.
Karena itu, membaca Sultan di Where Traces Linger dari perspektif Jawa Timur terasa relevan. Ia tidak perlu membawa identitas daerah secara literal ke dalam karya. Jejak Sidoarjo, Surabaya, Gresik, dan pengalaman bekerja di lingkungan lokal justru bisa dibaca melalui cara ia memperlakukan benda, sejarah, dan memori sebagai material kerja.
Apalagi pameran ini sendiri berlangsung di Surabaya. Orasis mempertemukan karya Sultan dengan arsip Peru dalam satu ruang dan mengajak pengunjung melihat bagaimana tempat, komunitas, dan sejarah dapat terus dibaca melalui apa yang tertinggal.
Di sini, Meratap di Antara Tanah mendapatkan konteks baru.
bagaimana manusia menyimpan ingatan, bagaimana sejarah direkam, dan apa yang terjadi ketika sebagian dari sejarah itu sudah tidak bisa ditemukan dalam bentuk aslinya.
Bagi ekosistem seni Jawa Timur, kehadiran Sultan di sini juga menunjukkan sesuatu yang sederhana: seniman yang tumbuh dari ekosistem lokal bisa masuk ke percakapan yang lebih luas tanpa harus meninggalkan konteks tempat ia bekerja.
Dan mungkin itu yang menarik untuk diperhatikan dari Where Traces Linger: jejak sejarah yang dibawa dari jauh akhirnya bertemu dengan seniman yang tumbuh di sini, di Surabaya, dengan Sidoarjo sebagai salah satu titik asal praktiknya.
editor: AHA