
Berlangsung sangat menyenangkan di pembukaan Surabaya Art Prize 2026 yang berlangsung di Orasis Art Space pada 8–31 Mei 2026. Sebagai sebuah kompetisi seni nasional yang berfokus pada karya dua dan tiga dimensi, Surabaya Art Prize merupakan ruang apresiasi bagi para seniman untuk memperlihatkan gagasan, proses, dan eksplorasi artistik mereka kepada publik yang lebih luas.
Tahun ini, Surabaya Art Prize menghadirkan 30 karya dari para semifinalis yang telah melalui proses seleksi kuratorial dan penjurian. Dari jumlah tersebut, 14 seniman terpilih sebagai finalis, mewakili beragam latar belakang, medium, dan pendekatan artistik. Ada seniman yang telah lama berkarya di medan seni rupa kontemporer, ada pula nama-nama baru yang membawa energi segar. Pertemuan itu membuat pameran ini terasa hidup dimana ketersediaan dialog antargenerasi, antar pengalaman, juga antar cara pandang.
Kompetisi ini membuka seleksi pada Februari lalu dan ditutup pada tanggal 7 April 2026 dengan diikuti oleh 364 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Dari jumlah tersebut, diseleksi sebanyak 30 semifinalis, dan diseleksi kembali menjadi 14 finalis, sebelum akhirnya terpilih menjadi 3 Official Selection atau pemenang utama yang diumumkan pada malam penganugerahan dan pembukaan pameran Surabaya Art Prize 2026 pada 7 Mei 2026.
Total hadiah untuk kategori Official Selection dalam kompetisi Surabaya Art Prize 2026 bernilai 90.000.000 rupiah. Masing-masing 3 Official Selection mendapatkan uang tunai sebesar 30.000.000 dan berkesempatan berpameran grup di Orasis Art Space diluar program Surabaya Art Prize dan salah satunya akan berkesempatan mengikuti residensi di SAC Gallery, Bangkok. Selain penghargaan Official Selection, Surabaya Art Prize 2026 juga menganugerahkan penghargaan Lifetime Achievement. Penghargaan ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi atas dedikasi integritas, serta kontribusi jangka panjang para seniman yang telah mengabdikan hidupnya untuk mengembangkan ekosistem seni rupa di Surabaya dan sekitarnya. Pada tahun ini, penghargaan Lifetime Achievement akan diberikan kepada empat orang penerima dengan kategori seniman, penulis dan patron seni. Masing-masing penerima akan memperoleh apresiasi berupa uang tunai sebesar Rp10.000.000, dengan total keseluruhan penghargaan mencapai
Rp40.000.000.


Bagi kami sebagai pengamat seni di Surabaya, kehadiran Surabaya Art Prize menjadi penting karena ia memperkuat posisi kota ini sebagai salah satu simpul seni rupa di Jawa Timur. Selama ini, Jawa Timur punya ekosistem seni yang aktif dan terus bertumbuh. Mulai dari studio, komunitas, ruang alternatif, kolektif, bahkan arsiper hingga galeri independen. Surabaya Art Prize menjadi salah satu panggung yang memberi pengakuan pada kerja panjang para seniman di dalamnya. Nama nama seperti Ridho Tullah, dengan judul karya Ambang tahun pembuatan 2026 ; Zeta Ranniry dengan judul karya Though Life is Heavy dan Vicky Saputra dengan judul karya Orbit menjadi penerima penghargaan SAP 2026. Begitu juga penerima penghargaan Lifetime Achievment dengan beberapa spektrum seniman ; arsiparis dan patron ialah; Huang Fong dan Nurzulis Koto. Kategori Penulis: Henri Nurcahyo dan Sunaryo Sampoerna sebagai patron seni rupa Jawa Timur
Sebagai media partner, kami melihat acara ini sebagai bentuk penghargaan terhadap praktik seni rupa di Jawa Timur. Ada perhatian pada proses, pada keberanian eksplorasi, dan pada keberagaman bahasa visual yang tumbuh dari konteks lokal namun tetap relevan dalam percakapan seni yang lebih luas.
“Lalu, bagaimana rasanya berjalan sebagai pengunjung di dalam ruang pamer ini?”
Begitu memasuki ruang utama, kami langsung bertemu dengan energi yang berbeda-beda dari tiap karya. Tidak ada ritme tunggal. Setiap sudut menawarkan pengalaman yang berubah.
Di satu ruang, perhatian kami tertahan pada karya yang menghadirkan tubuh melalui material anyaman, tekstil, dan fotografi. Tubuh dihadirkan sebagai ruang ingatan: tempat identitas, pengalaman, dan sejarah personal melekat. Beberapa langkah berikutnya, sebuah karya beton dengan tali dan elemen kuning kecil mengubah suasana. Ada rasa berat, tegang, dan sunyi. Karya itu seperti berbicara tentang daya tahan tentang bagaimana manusia sering kali terlihat kuat dari luar, padahal selalu ada kerentanan yang ikut menopang.
Lalu di ruang lain, instalasi dengan cahaya hijau lembut dari toples-toples kaca membawa pengalaman yang lebih intim. Ruang itu terasa pelan. Hampir seperti laboratorium kecil tempat kenangan, tubuh, dan alam bertemu dalam bentuk yang sangat personal. Hal seperti inilah yang membuat Surabaya Art Prize menarik untuk dikunjungi: setiap karya memberi kesempatan kepada kita untuk berhenti lebih lama. Untuk melihat lebih dekat. Untuk merasa.
Dan mungkin itu salah satu fungsi penting seni hari ini mengembalikan kemampuan kita untuk memperhatikan. Lewat Surabaya Art Prize 2026, para seniman Jawa Timur sedang menunjukkan bahwa seni rupa di wilayah ini terus bergerak: berani, beragam, dan terus mencari kemungkinan-kemungkinan baru. Artemis senang bisa menjadi bagian kecil dari perjalanan itu datang, melihat, mendengar, lalu ikut merayakannya.
Editor:
AHA