
Surabaya, ibu kota Jawa Timur. Wah, rasanya sulit menjawab satu pertanyaan sederhana: apa kabar manusia urban di ibu kota hari ini? Ternyata langkah ini dipercepat oleh banyak hal. Ada Target, ada algoritma, bahkan timeline yang tidak pernah selesai. Setiap hari seperti perlombaan kecil yang tak pernah diumumkan siapa pemenenangnya, tapi semua orang ikut berlari. Sangat cepat seolah-olah kita semua diminta produktif, kreatif, relevan, dan tetap terlihat baik-baik saja.
Saat masuk ke pameran “Imitation of Life” karya Sir Dandy di UNSUR Coffee, suasananya terasa seperti cermin yang diam-diam memantulkan situasi itu. Recalling 2022 ketika pameran Kool Thing dan tokoh Little Red Riding Hood dan Big Bad Wolf kini kami jumpai kembali, diarrange oleh artchemist bersama Aiola dan memakerkan karya dari Sir Dandy. Mereka ditempatkan dalam potongan-potongan adegan yang terasa akrab dimana potongan sejarah seni, fragmen budaya populer, dan memori visual yang kita kenali dalam sebua scene. Namun alih-alih nostalgia, yang muncul justru semacam kejanggalan, seperti sedang melihat ulang cerita lama yang tiba-tiba terasa terlalu dekat dengan kehidupan sekarang.
Di ruang pamer, cerita dongeng berubah menjadi metafora. Ikonik serigala dan perempuan bertudung merah yang tidak selalu tampak menakutkan. Dalam konteks kehidupan urban, peran-peran itu sering bertukar. Kita bisa menjadi keduanya sekaligus: yang dikejar sekaligus yang mengejar. Yang rentan sekaligus yang harus terlihat kuat. Lalu,
bagaimana manusia menghadapi tekanan untuk terus bergerak, terus tampil, terus “jadi sesuatu”?


Banyak orang menyalurkan kegelisahan dengan cara masing-masing. Ada yang menulis, membuat musik, membuat gambar, atau sekadar mencoret-coret di buku catatan. Dalam praktiknya, seni sering bekerja seperti katup kecil: tempat tekanan dilepaskan agar kepala tetap waras. Pun dalam karya Sir Dandt kali ini di “Imitation of Life” terasa lahir dari mekanisme yang serupa. Visual sampling, permainan memori, dan humor yang sedikit gelap menjadi cara untuk memproses keganjilan hidup sehari-hari. Mungkin itu sebabnya karya-karya ini terasa dekat. Ia tidak mencoba menjadi terlalu serius, tapi juga tidak benar-benar santai. Seperti percakapan dengan teman di tengah malam tentang kerjaan, masa depan, dan segala hal yang diam-diam membuat kita sebagai orang ibu kota juga ikut gelisah. Keluar dari ruang pamer, kota tetap sama: kendaraan masih ramai, notifikasi masih berdatangan, dan timeline terus berjalan. Tapi setidaknya ada satu pengingat kecil: keresahan tidak selalu harus disimpan sendirian. Dan kadang-Kadang ia cukup diubah bentuknya. Menjadi gambar. Menjadi cerita. Menjadi karya.
editor; AHA