
Hari itu kami datang sebelum hujan menapak ke daerah Sememi Kidul untuk melihat pameran dalam genangan dimana kami datang untuk membaca jejaknya.
Di RW 4, hujan bukan peristiwa musiman yang selesai ketika matahari muncul. Masryarakat disini tinggl di lantai rumah yang ditinggikan beberapa senti pun mereka menetap di ingatan warga tentang titik aman. Masyarakat bergerak dalam percakapan sehari-hari tentang arah air yang berubah sejak beton datang lebih cepat dari tanah yang sempat menyerapnya.
Melalui Pameran Jurnal Kreatif Sesudah Hujan, Tim Center for Climate and Urban Resilience (CeCUR) UNTAG Surabaya membuka ruang yang jarang terjadi dalam perencanaan kota: ruang mendengarkan yang di mentori oleh penggiat kolase Yohanes Tody yang juga dikenal sebagai @awaslepas_

Bagi kami team artchemist, ini menarik. Pamerannya berbeda, dihadirkan adalah pengalaman hidup yang dipetakan ulang. Ada cerita tentang lompongan yang dialihfungsikan, tentang jalur air yang kini berbeda, tentang keputusan-keputusan kecil warga yang justru menentukan daya tahan kampung.
Perencanaan drainase biasanya hadir dalam bentuk peta teknis, garis biru, dan angka-angka debit. Di Sememi, peta itu bertemu tubuh. Bertemu cerita. Bertemu suara ibu-ibu yang hafal kapan air mulai naik dan berapa lama warga-warga disini bertahan di teras.
Melalui diskusi dan pemetaan partisipatif, warga tidak diposisikan sebagai penerima hasil pembangunan. Mereka menjadi pembaca ruangnya sendiri. Pengalaman sehari-hari berubah menjadi data. Ingatan kolektif menjadi variabel penting dalam pemutakhiran Surabaya Drainage Master Plan.
Kami melihat bagaimana pengetahuan lokal bekerja: sederhana, kontekstual, dan lahir dari kedekatan dengan lingkungan. Ketika akademisi membawa metodologi, warga menghadirkan detail-detail yang tak selalu tercatat dalam laporan resmi. Pertemuan itu terasa seperti merangkai ulang ekosistem antara ilmu sosial, antropologi, serta pengalaman, dan keberanian untuk mengakui bahwa kota dibentuk oleh banyak suara.
Bagi kami ketika datang, pameran Sesudah Hujan adalah pengingat bahwa praktik seni dan praktik perencanaan bisa bertemu dalam satu napas. Ada perubahan lanskap, ada adaptasi, ada strategi bertahan yang terus diperbarui. Namun ada pula kesadaran baru: bahwa membaca air berarti membaca relasi kuasa, membaca pembangunan, membaca masa depan kota.
Dan mungkin, dari kampung kecil di Benowo ini, kita belajar sesuatu yang sederhana namun penting bahwa kota yang tangguh lahir dari kemampuan untuk mendengarkan warganya sendiri.
editor: AHA