
Nama Nnegoo sudah cukup lama beredar di lingkaran seni jalanan dan komunitas kreatif Jawa Timur, terutama karena konsistensinya mengolah garis, bidang, dan ritme visual hitam putih yang mudah dikenali. Saat memasuki ruang pamer, kesan pertama yang terasa adalah kedekatan karya-karya ini tidak berjarak, tidak terasa eksklusif, dan langsung mengajak kami untuk membaca pengalaman hidup yang sangat personal.
Teks kuratorial yang ditempel di dinding di tulis oleh ‘mas Xgo’ kami arek arek menyebutnya, LifeLine solo exhibtion dari Nego terlaksana secara mandiri, bagaimana ruang sosial, pertemanan, dan pengalaman jalanan menjadi bahan baku utama praktik seninya. Kami melihat bahwa pendekatan ini sangat akrab dengan ekosistem seni Jawa Timur, di mana banyak seniman tumbuh dari ruang kolektif, budaya nyangkruk guyon dino dinone, dan eksplorasi visual yang berlangsung terus-menerus tanpa terlalu bergantung pada jalur institusional.
Secara visual, karya-karya yang ditampilkan mempertahankan karakter garis tebal, pengulangan pola, dan komposisi hitam putih yang padat. Ada kesan spontan, seperti coretan yang bergerak cepat, namun ketika diamati lebih lama terlihat bahwa setiap bidang memiliki keseimbangan yang cukup terukur. Di beberapa karya, garis-garis saling bertabrakan dan menciptakan ruang yang terasa penuh, sementara di karya lain komposisi justru memberi ruang kosong yang cukup luas sehingga ritmenya terasa lebih tenang. Variasi ini membuat ruang pamer tidak terasa monoton meskipun palet warnanya terbatas.
Sebagai pengunjung yang juga aktif di lingkungan seni Jawa Timur, kami melihat pameran ini sebagai refleksi penting tentang bagaimana praktik seni bisa tetap relevan dengan kehidupan sehari-hari. Banyak pengunjung yang datang tampak merasa dekat dengan narasi yang dibawa bahkan cerita tentang lingkungan tempat ‘Dek igo’ tumbuh, tentang proses bertahan, dan tentang kebiasaan menggambar yang dilakukan terus menerus sebagai bentuk disiplin personal. Kedekatan semacam ini sering menjadi kekuatan utama pameran-pameran berbasis komunitas.
Kami juga menangkap bahwa pameran ini tidak mencoba tampil terlalu konseptual atau rumit. Pendekatan yang diambil terasa langsung: garis menjadi bahasa utama, pengalaman hidup menjadi sumber ide, dan proses kerja yang konsisten menjadi fondasi. Dalam konteks perkembangan seni visual lokal, sikap seperti ini penting karena menunjukkan bahwa praktik yang berangkat dari kebiasaan sederhana tetap bisa berkembang menjadi identitas artistik yang kuat ketika dijalani secara serius dalam jangka panjang.
Di ruang pamer, beberapa pengunjung terlihat berdiskusi cukup lama di depan karya tertentu. Ada yang membicarakan teknik garis, ada yang mencoba menafsirkan bentuk-bentuk figuratif yang muncul samar, dan ada juga yang sekadar menikmati tekstur visual yang dihasilkan. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa karya-karya Nnegoo membuka ruang dialog yang luas tanpa harus memberikan penjelasan yang terlalu kaku. Setiap orang membawa pengalaman masing-masing ke dalam cara membaca karya.
Bagi kami dari Artchemist, pameran ini terasa penting sebagai pengingat bahwa ekosistem seni Jawa Timur terus bergerak melalui kerja-kerja individual yang konsisten sekaligus melalui jaringan pertemanan yang saling mendukung. Nnegoo memperlihatkan bagaimana perjalanan panjang di ruang komunitas, studio kecil, hingga berbagai aktivitas street art dapat membentuk bahasa visual yang akhirnya menemukan ruang presentasinya dalam pameran tunggal.
Kunjungan ini meninggalkan kesan bahwa praktik seni yang tumbuh dari keseharian memiliki daya tahan yang kuat. Ketika seorang seniman terus menggambar, terus bereksperimen, dan terus berinteraksi dengan lingkungannya, karya yang muncul membawa energi yang terasa jujur. Energi tersebut yang kami rasakan sepanjang berada di ruang pamer dimana pameran ini dibantu terorganisir baik oleh Bunuh Diri Studio. Pameran tunggal oleh Nnegoo adalah sebuah pengalaman melihat garis-garis sederhana berkembang menjadi arsip perjalanan hidup yang terus berjalan.
Lokasi Pemeran; Bioskop Damai kawasan Posbloc Kota Surabaya
Durasi; 14 – 18 Februari 2026