Nafas Baru Jejak Warga Seni di Kota Malang

Ada perjalanan yang tidak selesai ketika seseorang sampai di tujuan. Hal itu terasa ketika berkunjung ke Artmeru, Malang, dalam pameran bertajuk The First Passage: Perihal Keberangkatan, Lintasan, dan Kehadiran.

Pameran ini membawa cerita tentang perjalanan sejumlah seniman Jawa Timur yang sebelumnya telah mengikuti perhelatan pameran pasar seni di Art Jakarta. Setelah karya-karya tersebut diperkenalkan kepada publik di luar Malang, kini mereka kembali dipajang di kota asalnya. Sebuah perjalanan pulang yang sekaligus menjadi kesempatan untuk membuka pertemuan baru dengan warga seni di Malang seperti mas Helmi Zuhdi, Mbak Gita dan Mas Sulung. Banyak cerita tentang nafas baru setelah lembaran lama Semeru Art Gallery di tutup.

Artmeru sendiri menjadi bagian dari cerita tersebut. Dalam hitungan bulan sejak berdiri, galeri ini telah mengambil langkah pertamanya dengan mengikuti perhelatan seni di Jakarta. Pengalaman itu kemudian dibawa kembali ke Malang melalui pameran yang melibatkan 18 seniman dari Jawa Timur.

Dari 18 seniman tersebut, tujuh di antaranya turut berangkat bersama Artmeru ke Jakarta. Sebagian berasal dari Malang, sementara lainnya datang dari berbagai kota di Jawa Timur. Karya-karya yang ditampilkan memiliki pendekatan visual dan medium yang beragam. Lukisan, karya instalasi, hingga eksplorasi bentuk dan warna hadir dalam satu ruang pamer.

Saat menyusuri ruang pamer, perhatian pengunjung bergerak dari satu karya ke karya lainnya. Ada karya dengan komposisi figuratif, lanskap, dan elemen visual yang terasa personal. Beberapa karya menghadirkan suasana yang cukup kontras satu sama lain, tetapi justru memberi gambaran tentang beragam pendekatan artistik yang tumbuh di lingkungan seniman Jawa Timur.

Hal yang menarik dari The First Passage adalah cara pameran ini membaca perjalanan sebagai pengalaman bersama. Para seniman tidak disatukan oleh satu tema visual tertentu. Mereka dipertemukan melalui pengalaman berangkat, mengikuti sebuah perhelatan di kota lain, lalu kembali membawa karya untuk diperkenalkan kepada publik di tempat asalnya.

Dalam teks pengantar pameran, perjalanan pulang juga dipahami sebagai kesempatan untuk membuka pintu bagi perjalanan berikutnya. Ada apresiasi terhadap para seniman yang telah mempercayakan karyanya untuk dibawa dalam perjalanan Artmeru, sekaligus upaya memberikan ruang bagi publik Malang untuk melihat dan mengenal karya-karya tersebut secara langsung.

Bagi kami, sebagai pengunjung, saat datang dan mampir di galeri, bagian ini terasa penting. Perjalanan sebuah karya seni tidak berhenti ketika karya selesai dibuat atau ketika pameran selesai digelar. Ada proses pertemuan, perpindahan, pengenalan, dan percakapan yang terus berlangsung. Karya yang sebelumnya dilihat oleh publik di Jakarta kini memiliki kesempatan untuk dibaca kembali dalam konteks kota yang berbeda.

Kehadiran Artmeru juga menarik untuk dilihat dalam perkembangan ruang-ruang seni di Jawa Timur. Inisiatif seperti ini memberi kesempatan bagi seniman untuk memperluas jangkauan, membangun jejaring, dan mempertemukan karya dengan audiens yang lebih beragam.

The First Passage menjadi langkah awal yang patut dicatat. Ada 18 seniman, sejumlah karya dengan karakter masing-masing, dan satu ruang yang mempertemukan mereka kembali dengan publik Malang.

Pada akhirnya, saya meninggalkan ruang pamer dengan satu pemikiran: perjalanan pulang bisa menjadi awal dari perjalanan berikutnya. Dan untuk sebuah ruang seni yang masih muda seperti langkah dan nafas baru di Artmeru, langkah pertama ini layak menjadi bagian dari cerita yang terus berkembang.

 

Editor: AHA