Kalisat Tempo Dulu 11: Saujana Gumok, Membaca Bentang Alam sebagai Arsip Hidup dan Memori Warga

Digelar pada 16–17 Oktober 2026, Kalisat Tempo Dulu 11 menghadirkan pameran, pemutaran film, Bincang Saujana, serta Merokat Kenangan: Nyonteng Gumok untuk mengajak publik membaca kembali gumuk sebagai bentang alam yang menyimpan sejarah, pengetahuan lokal, dan ingatan kolektif masyarakat.

Bentang alam bukan sekadar hamparan ruang yang membentuk wajah suatu wilayah. Di dalamnya tersimpan jejak pembentukan bumi, perubahan lingkungan, pengalaman masyarakat, serta pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika bentang alam berubah atau menghilang, yang terancam lenyap bukan hanya bentuk fisiknya, melainkan juga ingatan dan pengetahuan yang tumbuh bersamanya.

Gagasan tersebut menjadi pijakan Kalisat Tempo Dulu 11 melalui tema “Saujana Gumok”, yang berlangsung pada 16–17 Oktober 2026. Program ini menghadirkan rangkaian kegiatan berupa pembukaan pameran, pemutaran film, diskusi publik, perjumpaan dengan tradisi lokal, hingga tasyakuran. Seluruh rangkaian menjadi ruang untuk mempertemukan pembacaan lanskap, pengalaman warga, kebudayaan, dan refleksi mengenai keberadaan gumuk di Jember.

Melalui tema ini, Sudut Kalisat mengajak publik melihat gumuk bukan semata sebagai objek geografis, melainkan sebagai bagian dari ruang hidup yang memiliki nilai ekologis, historis, sosial, dan kebudayaan. Upaya mengenali kembali gumuk menjadi penting di tengah perubahan bentang alam dan berbagai tekanan terhadap keberadaan situs-situs ekologi.

Menurut Muhammad Iqbal, Direktur Program Sudut Kalisat, tema ini dipilih karena kebutuhan mendesak untuk mengenal ulang situs ekologi di Jember.

“Saujana Gumok menempatkan pengenalan kembali lanskap sebagai kebutuhan yang mendesak. Gumuk perlu dipahami lebih jauh, baik dari proses pembentukannya maupun dari hubungannya dengan kehidupan masyarakat. Di balik keberadaannya, terdapat pertanyaan mengenai sejarah lingkungan, perubahan pemanfaatan ruang, dan pengetahuan lokal yang selama ini mungkin belum terdokumentasikan secara memadai,” kata Iqbal.

Gumuk sebagai Arsip Hidup

Gumuk merupakan salah satu karakter bentang alam yang menonjol di Jember. Keberadaannya berkaitan dengan sejarah geologi kawasan, termasuk proses yang berhubungan dengan aktivitas vulkanik Gunung Raung pada masa lampau. Bentuk dan materialnya menjadi bagian dari rekaman panjang perubahan bumi yang dapat ditelusuri melalui pengamatan lanskap dan penelitian geologi.

Namun, menurut Iqbal, pembacaan terhadap gumuk tidak harus berhenti pada aspek geologis. Lanskap juga memiliki dimensi sosial dan kultural. Masyarakat yang hidup di sekitarnya menyimpan pengalaman mengenai tempat, perubahan lingkungan, pemanfaatan ruang, serta cerita yang diwariskan melalui ingatan dan praktik keseharian.

Dalam perspektif ini, gumuk dapat dipahami sebagai arsip hidup. Ia menyimpan informasi yang tidak seluruhnya hadir dalam dokumen tertulis. Sebagian pengetahuan melekat pada kondisi lanskap, sementara sebagian lainnya hidup dalam ingatan warga, penamaan tempat, pengalaman lintas generasi, dan cara masyarakat memaknai lingkungannya.

“Membaca gumuk sebagai arsip hidup berarti mempertemukan berbagai sumber pengetahuan. Data geologi dapat membantu menjelaskan proses pembentukan bentang alam, sedangkan cerita warga dapat memberi konteks tentang perubahan yang mereka saksikan. Foto, peta, catatan lapangan, dan arsip visual juga dapat digunakan untuk membandingkan kondisi lanskap dari waktu ke waktu,” jelas Iqbal.

Menurutnya, ketika sebuah gumuk berubah atau lenyap, kehilangan itu tidak hanya berkaitan dengan perubahan bentuk tanah. Bersamanya dapat ikut terputus hubungan masyarakat dengan tempat yang menyimpan pengalaman dan sejarah mereka. Karena itu, dokumentasi menjadi salah satu cara untuk merekam perubahan sekaligus membuka ruang pembelajaran bagi generasi berikutnya.

Dari Kegelisahan Menuju Kerja Kolektif

Menurut Iqbal, kesadaran terhadap pentingnya gumuk perlu diikuti langkah yang memungkinkan pengetahuan tentangnya terus berkembang.

“Kami kolektif Sudut Kalisat merasa perlu melakukan sesuatu dalam bentuk riset, ajakan, dan melahirkan hipotesis-hipotesis baru,” jelasnya.

Hal ini adalah respons terhadap perubahan lanskap tidak cukup berhenti pada keprihatinan. Diperlukan upaya untuk mengumpulkan informasi, menyusun pertanyaan, melibatkan masyarakat, dan membuka kemungkinan penelitian lebih lanjut.

Riset bagi Sudut Kalisat menjadi sarana untuk memahami persoalan secara lebih mendalam. Ajakan kepada publik diperlukan agar kepedulian terhadap gumuk tidak hanya tumbuh di kalangan peneliti atau pegiat kebudayaan. Sementara itu, hipotesis baru memungkinkan munculnya pertanyaan dan sudut pandang yang dapat diuji melalui pengumpulan bukti.

Semangat tersebut hadir dalam rangkaian Kalisat Tempo Dulu 11 yang menggabungkan berbagai bentuk perjumpaan. Pameran membuka kesempatan bagi publik untuk menyimak materi dan gagasan yang dihadirkan, sedangkan pemutaran film dan diskusi menjadi ruang untuk memperluas percakapan mengenai lanskap, ingatan, dan pengetahuan.

Rangkaian ini juga memperlihatkan bahwa pengetahuan dapat dibangun melalui beragam cara yaitu penelitian, pengamatan, karya visual, percakapan publik, dan pengalaman kebudayaan. Semua pendekatan tersebut dapat saling melengkapi dalam membangun pemahaman yang lebih utuh tentang ruang hidup.

Pameran, Film, Diskusi, dan Tradisi

Kalisat Tempo Dulu 11 berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu, 16–17 Oktober 2026. Rangkaian acara dirancang sebagai perjumpaan antara publik, karya, gagasan, dan praktik kebudayaan.

Pada Jumat, 16 Oktober 2026, kegiatan dimulai dengan pembukaan pameran pada pukul 15.00–21.00. Pada malam hari, pukul 19.00, agenda dilanjutkan dengan Sinema Kelontong, yang menayangkan Seribu Benteng (2017), karya Frans Sandi M. Pemutaran film ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mempertemukan pengalaman menonton dengan ruang percakapan publik.

Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, rangkaian kegiatan berlanjut sejak pukul 10.00 melalui Merokat Kenangan: Nyonteng Gumok, yang dijadwalkan berlangsung hingga pukul 12.00. Kegiatan ini bertempat di Desa Sumberkalong, Kecamatan Kalisat.

Pada hari yang sama, pukul 15.00 di Kampung Lorstkal, agenda Bincang Saujana menghadirkan Ahmad Supandi, Sari Shiba, dan Nuriyono. Forum ini menjadi ruang untuk memperluas pembacaan terhadap tema Saujana Gumok melalui pertukaran pandangan dan diskusi. Rangkaian hari Sabtu ditutup dengan penutupan pameran pada pukul 21.00.

Melalui susunan agenda tersebut, Kalisat Tempo Dulu 11 tidak hanya menghadirkan pameran sebagai ruang melihat karya, tetapi juga menyediakan kesempatan untuk menonton, berdiskusi, mengenali tradisi, dan berkumpul. Ragam kegiatan itu menjadi cara untuk mempertemukan berbagai pengalaman dalam pembacaan yang lebih luas mengenai lanskap dan kehidupan masyarakat.

Situs Ekologi Khas Milik Jember

Gumuk Jember membuka peluang untuk memperkenalkan kekhasan bentang alam daerah ini kepada publik yang lebih luas. Namun, upaya tersebut perlu disertai kehati-hatian dalam menyampaikan klaim mengenai keunikan atau kelangkaannya.

Pernyataan bahwa suatu bentang alam merupakan fenomena unik di tingkat Indonesia, Asia, atau dunia perlu didukung penelitian, definisi yang jelas, serta sumber pembanding yang dapat diperiksa. Tanpa dasar tersebut, klaim mengenai keunikan berisiko menjadi slogan yang tidak menambah pemahaman.

Karena itu, mengenali ulang gumuk berarti bersedia memulai dari pengamatan dan pertanyaan, kemudian menelusuri bukti yang tersedia. Proses ini tidak mengurangi nilai gumuk, tetapi justru memberikan landasan yang lebih kuat untuk memahami dan memperkenalkannya.

Ketelitian merupakan bagian dari kepedulian terhadap lanskap. Menyatakan bahwa sebuah tempat penting perlu disertai upaya memahami alasan kepentingannya, sejarah pembentukannya, perubahan yang berlangsung, serta pengetahuan yang dapat dipelajari darinya.

Riset dan dokumentasi berperan untuk membedakan fakta yang telah terverifikasi dari dugaan yang masih perlu diuji. Pada saat yang sama, keduanya menjaga ruang bagi pertanyaan baru dan temuan yang belum terungkap.

Merawat Lanskap, Merawat Ingatan

Melalui Kalisat Tempo Dulu 11, Saujana Gumok mengajak masyarakat membangun hubungan yang lebih kritis dan bertanggung jawab dengan bentang alamnya. Gumuk tidak hanya dipandang sebagai latar geografis, tetapi juga sebagai bagian dari ruang hidup yang membentuk pengalaman, pengetahuan, dan ingatan masyarakat.

Ketika lanskap dipahami sebagai arsip hidup, upaya merawatnya memperoleh makna yang lebih luas. Perlindungan lingkungan berkaitan pula dengan keberlanjutan pengetahuan tentang tempat. Dokumentasi, penelitian, dan pelibatan warga menjadi langkah untuk memastikan bahwa perubahan bentang alam tidak berlangsung tanpa catatan dan tanpa percakapan publik.

Ajakan Iqbal untuk melakukan riset, membangun keterlibatan publik, dan melahirkan hipotesis baru menegaskan pentingnya proses yang terbuka. Pengenalan kembali gumuk memerlukan partisipasi berbagai pihak, kesediaan mendengarkan pengalaman warga, dan ketekunan memeriksa informasi sebelum menarik kesimpulan.

Melalui pameran, Sinema Kelontong, Bincang Saujana, Merokat Kenangan: Nyonteng Gumok, Kalisat Tempo Dulu 11 mempertemukan beragam cara untuk membaca lanskap dan merawat ingatan. Rangkaian tersebut mengajak publik tidak hanya melihat gumuk sebagai bagian dari bentang alam, tetapi juga mempertimbangkan pengetahuan, pengalaman, dan hubungan sosial yang tumbuh bersamanya.

Pada akhirnya, Saujana Gumok bukan sekadar ajakan untuk melihat gumuk dengan cara berbeda. Tema ini mendorong publik memahami sejarah lanskap, mendokumentasikan pengetahuan yang tersimpan, dan mempertimbangkan masa depan ruang hidup bersama.

Sebab, ketika sebuah lanskap hilang, yang lenyap tidak selalu hanya bukit atau bentuk tanah. Yang ikut terancam adalah tempat berpijak bagi ingatan, sumber pertanyaan bagi penelitian, dan kesempatan bagi generasi mendatang untuk memahami sejarah lingkungannya sendiri.

Tentang Kalisat Tempo Dulu 11

Kalisat Tempo Dulu merupakan ruang kegiatan yang menghubungkan pembacaan sejarah lokal, kebudayaan, lingkungan, dan pengalaman masyarakat. Melalui tema Saujana Gumok, Kalisat Tempo Dulu 11 menghadirkan rangkaian kegiatan pada 16–17 Oktober 2026 untuk mengajak publik mengenali kembali gumuk di Jember sebagai bentang alam yang memiliki nilai ekologis, historis, dan sosial.

Tentang Sudut Kalisat

Sudut Kalisat merupakan kolektif yang mengembangkan kegiatan riset, dokumentasi, dan ruang perjumpaan untuk membaca kembali lingkungan serta pengetahuan lokal. Melalui kerja kolektif, Sudut Kalisat mendorong tumbuhnya pertanyaan, percakapan, dan pemahaman baru mengenai hubungan masyarakat dengan ruang hidupnya.

Informasi kegiatan

  • 16 Oktober 2026, 15.00–21.00: Pembukaan pameran.
  • 16 Oktober 2026, 19.00: Sinema Kelontong — Seribu Benteng (2017), karya Frans Sandi M.
  • 17 Oktober 2026, 10.00–21.00: Merokat Kenangan: Nyonteng Gumok bersama Cak Sid dan Rasi Wibowo, Desa Sumberkalong, Kecamatan Kalisat.
  • 17 Oktober 2026, 15.00: Bincang Saujana bersama Ahmad Supandi, Sari Shiba, dan Nuriyono.
  • 17 Oktober 2026, 21.00: Penutupan pameran.

Kontak media
 Nama narahubung: Agnes
 Nomor telepon: 085155356514
 Alamat surel: [email protected]