

Apa yang terjadi ketika seseorang menemukan bahasa, benda, dan tanda budaya yang terasa familiar di kota yang memiliki sejarah berbeda dari tempat asalnya? Pertanyaan ini menjadi salah satu titik berangkat Haxen Fan, seniman asal Taiwan, dalam presentasi program final What Remains, Remain, Remember di C2O Library & Collabtive, Surabaya.
Program ini merupakan bagian dari Rentang Art Residency, dengan Dimas Tri Pamungkas sebagai kurator. Melalui fotografi dan material visual, Haxen mengamati jejak budaya Tionghoa di Surabaya, termasuk bagaimana bahasa dan benda berpindah tempat, mengalami perubahan konteks, serta memperoleh makna baru dalam kehidupan masyarakat. Instagram.com/ren___tang
Pengalaman Haxen berangkat dari perjumpaannya dengan komunitas Tionghoa masyarakt Indonesia di Surabaya. Sebagai orang yang datang dari Taiwan, ia mengenali sejumlah bahasa dan tanda budaya yang memiliki kedekatan dengan latar belakangnya. Namun, kedekatan tersebut muncul dalam lingkungan sosial dan sejarah yang berbeda dari yang ia kenal sebelumnya. Sebuah tanda budaya dapat bertahan dalam kehidupan masyarakat, sementara fungsi dan pemahamannya berubah mengikuti generasi, lingkungan, serta perjalanan sejarah.
Ketika Benda dan Bahasa Berpindah Konteks
Salah satu pengalaman yang menjadi bagian dari proses Haxen adalah perjumpaannya dengan kumpulan puisi berbahasa Mandarin dari Taiwan yang ditemukan di Pasar Nostalgia. Temuan tersebut memperlihatkan bagaimana material budaya dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan melanjutkan keberadaannya dalam lingkungan yang berbeda.
Benda seperti buku misalnya, menyimpan banyak kemungkinan pembacaan. Ada bahasa yang digunakan, konteks tempat benda itu berasal, orang-orang yang pernah memilikinya, serta perjalanan yang membuatnya berada di lokasi baru. Ketika benda tersebut ditemukan oleh orang lain, hubungan antara asal-usul dan makna yang dimilikinya kembali terbuka untuk ditafsirkan.


Dalam konteks karya dengan medium fotografi, menjadi cara Haxen mengamati dan mengolah jejak tersebut. Foto-foto yang dihasilkannya tidak berhenti pada fungsi dokumentasi. Haxen juga memperlakukan foto sebagai material yang dapat dipindahkan, diubah, dipotong, dan mengalami perubahan kondisi. Dengan demikian, gambar memiliki perjalanan materialnya sendiri, sebagaimana benda yang direkamnya.
Pendekatan ini memberi perhatian pada hal-hal yang sering luput ketika kita membicarakan identitas budaya. Kita kerap mengenali budaya melalui simbol, bahasa, atau bentuk visual yang dianggap mewakili kelompok tertentu. Padahal, kehidupan budaya berlangsung melalui praktik sehari-hari, perpindahan manusia, perubahan lingkungan, serta hubungan antargenerasi.
Membaca Surabaya dari Posisi Orang yang Datang
Surabaya memiliki sejarah panjang sebagai kota perdagangan dan pertemuan berbagai kelompok masyarakat. Perjalanan kota ini melibatkan mobilitas penduduk, aktivitas ekonomi, serta perkembangan komunitas dengan latar belakang budaya yang beragam. Dalam konteks tersebut, jejak budaya Tionghoa dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan kota.
Bagi Haxen, Surabaya menjadi tempat untuk berhadapan dengan material budaya yang memiliki kedekatan sekaligus jarak dengan pengalaman pribadinya. Ia mengenali sejumlah tanda yang terasa familiar, tetapi tidak memiliki seluruh pengalaman sejarah yang membentuk keberadaan tanda-tanda tersebut di Surabaya.
Posisi ini memberi sudut pandang yang menarik. Orang yang datang dari luar suatu lingkungan dapat melihat hal-hal yang bagi warga setempat mungkin sudah menjadi bagian biasa dari keseharian. Sebaliknya, pengenalan awal juga memiliki keterbatasan karena setiap benda dan tanda budaya memiliki konteks yang tidak selalu langsung terlihat.
Sungguh sebuah pengalaman yang membuka ruang untuk mempertanyakan bagaimana identitas dibentuk dan dipahami dan berkaitan dengan pengalaman hidup, hubungan sosial, mempri kolektif, dan cara seseorang menempatkan dirinya di lingkungan tertentu.
Posisi Proyek Ini dalam Ekosistem Seni Jawa Timur
Ketika kami, team Artchemist berkunjung, mengamati proyek Haxen menarik karena mempertemukan praktik seni dengan persoalan yang dekat dengan kajian sosial dan budaya. Fotografi digunakan untuk mengamati hubungan antara benda, identitas, dan sejarah. Apalagi, mengambil kota Surabaya menjadi konteks tempat hubungan tersebut dapat diperiksa melalui pengalaman konkret.
Kehadiran seniman dari Taiwan dalam program residensi juga membuka kesempatan bagi ekosistem seni di Jawa Timur untuk melihat kota melalui pengalaman seseorang yang datang dari latar budaya berbeda. Perjumpaan seperti ini dapat memperluas pembacaan terhadap sejarah dan kehidupan sosial Surabaya, terutama ketika proses artistik melibatkan pengamatan, percakapan, serta penelusuran material yang berada di sekitar masyarakat.
Hal yang menarik dari proyek ini terletak pada cara Haxen memperlakukan jejak budaya. Ia tidak berusaha menetapkan satu definisi tentang budaya Tionghoa melalui karya-karyanya. Perhatiannya diarahkan pada bagaimana budaya terus mengalami perubahan ketika bergerak melewati tempat, generasi, dan pengalaman yang berbeda.
Pendekatan tersebut relevan bagi praktik seni di Jawa Timur yang berhadapan dengan beragam sejarah lokal dan kehidupan masyarakat. Benda sehari-hari, arsip keluarga, bahasa, foto lama, hingga material yang ditemukan di ruang publik dapat menjadi sumber untuk membaca perubahan sosial. Namun, material tersebut membutuhkan konteks agar pembacaannya tidak berhenti pada bentuk visual atau anggapan tentang identitas suatu kelompok.
Melalui program final What Remains, Remain, Remember, Haxen Fan menunjukkan bagaimana fotografi dapat digunakan untuk menelusuri hubungan antara material budaya dan pengalaman manusia. Proyek ini mengajak warga seni melihat kembali apa yang masih tersisa, bagaimana sesuatu tetap dikenali, dan apa yang berubah ketika sebuah jejak budaya ditemukan dalam konteks yang berbeda sekaligus tang dekat dengan keseharian jejak pengalaman manusia.
editor: AHA