Babad Lembâna 5: Pamolèan

RILIS PERS

Lembana Artgroecosystem

Jl. Raya Gadu Barat, Kec. Ganding, Kab. Sumenep, Madura

 

Babad Lembana 5 dan MTN Seni Budaya Merawat Seni Sebagai Ruang Bersama  

Sumenep, 23 Desember 2025 –– Babad Lembâna telah diselenggarakan pada 14 sampai dengan 20 Desember 2025 di Lembâna Artgroecosystem, Sumenep, Madura. Pada edisi kelima, hajatan seni tahunan ini mengusung tajuk “Pamolèan”, yang dalam tradisi Madura merujuk pada alamat pulang, yakni rumah asal sebagai tempat sejarah bermula dan sekaligus bermuara.

 

Babad Lembâna 5 didukung oleh Kementerian Kebudayaan melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya melalui skema MTN Presentasi bidang Seni Pertunjukan. MTN Seni Budaya adalah sebuah program yang bertujuan untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan. Dengan pendekatan efektif, inklusif, dan relevan, talenta dihubungkan dengan berbagai peluang pengembangan kapasitas dan akses pasar, baik nasional maupun global.

 

Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra menyampaikan dalam kesempatan terpisah, “MTN Seni Budaya dirancang untuk membuka peluang bagi seniman muda di berbagai daerah untuk terus mengembangkan diri. Kami meyakini bahwa para pegiat seni Indonesia tumbuh dari konteks lokal, dari relasi yang hidup antara seniman, ruang, dan komunitas. Kolaborasi dengan Babad Lembâna 5 menjadi bagian dari komitmen tersebut, yakni mengembangkan gagasan para seniman yang berpijak pada pengalaman keseharian dan pengetahuan lokal, sekaligus membuka ruang dialog yang lebih luas untuk memperkuat ekosistem seni pertunjukan.”

 

Di samping itu, kegiatan ini juga didukung oleh berbagai inisiatif seni, lembaga, dan komunitas kebudayaan dari berbagai daerah. Babad Lembâna juga merupakan bagian dari Antarragam Jejaring Garasi Performance Institute, sebuah akademi pertunjukan dan simpul antarragam praktisi seni pertunjukan di Indonesia.

 

MTN Presentasi

MTN Presentasi adalah salah satu inisiatif MTN Seni Budaya berupa ruang bagi talenta untuk menampilkan karya serta memperoleh eksposur dan apresiasi dari publik maupun pelaku industri. Pada pelaksanaan Babad Lembâna 5: Pamolèan, terdapat lima MTN Presentasi yang terdiri dari empat karya pertunjukan seni serta satu forum musyawarah keproduseran seni pertunjukan. Kegiatan tersebut berlangsung pada 16-18 Desember 2025 di berbagai ruang spesifik di Lembâna, Gadu Barat, Sumenep.

Pertunjukan “Labuni Essoé / Menjelang Petang” di pekarangan rumah warga Lembana. Foto: dok. Lembana. DSC02593.jpg

Karya pertunjukan pertama berjudul “Labuni Essoé / Menjelang Petang” karya Annisa Effendi (Makassar). Pertunjukan ini dilaksanakan pada 16 Desember 2025 pukul 15.30 WIB dan bertempat di halaman rumah warga Lembâna, dengan memanfaatkan ruang domestik sebagai bagian dari konteks artistik pertunjukan. Karya ini bertolak dari petuah Bugis yang berbunyi “Dé nalabu essoé ri tengngana bitaraé (matahari tidak akan tenggelam di tengah langit)”. Petuah ini menegaskan keyakinan bahwa segala yang dialami manusia telah berada dalam garis kehendak, sehingga kegelisahan dan kecemasan berlebih tidak menemukan tempatnya.

Pertunjukan “Gorilla, Gerilya, Piagam Madura” di sepanjang ruas jalan Gadu Barat dan kaki bukit Perigi Lembana. Foto: dok. Lembana.NFL02120.JPG

Karya kedua berjudul “Gorilla, Gerilya, Piagam Madura”, merupakan karya kolaborasi Rachmat Mustamin (Makassar), M. Safrizal (Aceh), dan Rukun Kalengbusbus (Sumenep). Pertunjukan ini dipentaskan pada 17 Desember 2025 di kaki Bukit Perigi Lembâna, dengan lanskap alam terbuka sebagai ruang presentasi dan bagian integral dari pembacaan karya. Pertunjukan ini mengajukan sebuah spekulasi historis-politis dengan mempertemukan figur-figur yang berasal dari lanskap geografis, kultural, dan ideologis yang berbeda seperti Kahar Muzakkar dari Sulawesi Selatan, Hasan Tiro dari Aceh, Jumarup (bajing Madura) sebagai figur rakyat yang hidup dalam ingatan lokal Madura, serta Sayyid Abdullah, seorang ulama Madura. Melalui perjumpaan empat tokoh tersebut, karya ini menyoal ulang narasi nasional yang kerap memusatkan kemerdekaan semata pada lepasnya kekuasaan kolonial asing, sembari mengaburkan praktik-praktik kolonialisme internal yang terus bekerja dalam relasi pusat-pinggiran, negara-daerah, dan elite-rakyat.

 

Pertunjukan “Akar Emas Hijau 3.0” di panggung Babad Lembana. Foto: dok. Lembana

Karya pertunjukan ketiga adalah “Akar Emas Hijau 3.0” oleh koreografer Ela Mutiara (Sukabumi) bersama penari Dwi Nusa Aji (Mojokerto). Pertunjukan ini dilaksanakan pada 17 Desember 2025 di Panggung Lembâna, sebagai ruang utama pertunjukan seni dalam rangkaian hajatan. Karya ini adalah studi korporealitas tubuh buruh petik teh sebagai simpul historis dalam ekspansi besar deforestasi dan pembukaan lahan perkebunan teh di Jawa Barat pada masa kolonial, khususnya pada 1844 dan setelahnya.

 

Pertunjukan “The Eater” di panggung Babad Lembana. Foto: dok. Lembana.DSC03876.JPG

Karya pertunjukan keempat berjudul “The Eater” karya Dani S. Budiman (Cilacap). Pertunjukan ini dipentaskan pada 18 Desember 2025 di Panggung Lembâna, melengkapi rangkaian presentasi karya seni pertunjukan dalam Babad Lembâna 5. Pertunjukan ini berpijak pada korporealitas tindakan memakan sesuatu yang secara normatif berada di luar kategori “yang dapat dimakan,” sebagaimana lazim ditemukan dalam pertunjukan Ebeg di masyarakat Banyumasan.

Selain pertunjukan, MTN Presentasi pada Babad Lembâna 5 juga menyelenggarakan forum musyawarah keproduseran seni pertunjukan bertajuk “Metode Kelontong Madura: Logika Relasional untuk Keproduseran Seni Pertunjukan (di) Indonesia”. Kegiatan ini dilaksanakan pada 18 Desember 2025 pukul 14.00 WIB di halaman Masjid Lama Lembâna, dengan menghadirkan narasumber Tazkia Hariny (Bandung), Wan Harun (Pekanbaru), dan Ibe S. Palogai (Makassar). Forum ini menjadi ruang diskusi dan pertukaran pengetahuan terkait praktik keproduseran seni pertunjukan berbasis relasi dan konteks lokal. Musyawarah ini mengajukan “Toko Kelontong Madura” sebagai sebuah model epistemologis dan metodologi keproduseran yang bertalian dengan gestur keseharian, ketahanan sosial, dan praktik ekonomi relasional warga. Alih-alih memahami keproduseran sebagai fungsi manajerial yang mengatur alur produksi, forum ini menempatkannya sebagai praktik pengetahuan tentang bagaimana cara mengorkestrasi relasi dan menghimpun sumber daya agar kerja seni dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Forum Keproduseran di halaman Masjid Lembana. Foto: dok. Lembana. NFL01796.JPG

 

Festival sebagai Hajatan: Bagaimana Hajatan Ini Berlangsung?

Babad Lembâna menegaskan dirinya sebagai festival berbasis hajatan. Tidak ada batas antara “penonton” dan “tuan rumah”. Setiap orang yang hadir menjadi bagian dari ekosistem peristiwa. Sejak pertama kali digelar, festival ini tumbuh melalui kerja bersama warga: memasak di dapur terbuka, menjelajah pameran lewat jalan kaki, berbagi cerita di teras rumah, dan sebagainya. Babad Lembâna mempraktikkan seni sebagai ruang belajar lintas generasi, disiplin, dan identitas, serta sebagai madrasah kultural yang bertumpu pada pengetahuan relasional.

 

Menutup rangkaian hajatan, Direktur Festival Babad Lembâna 5, Athia Alamanda menyampaikan, “Babad Lembâna 5: Pamolèan, dengan dukungan Kementerian Kebudayaan melalui program MTN Seni Budaya bidang Seni Pertunjukan, kami harapkan dapat menjadi ruang bersama untuk memperluas pemahaman tentang Madura, sekaligus menghidupkan kembali cara kita memaknai rumah, kebudayaan, dan hubungan antarmanusia. Sebagaimana tertulis dalam kuratorial hajatan ini, ketika seni dirawat sebagai hajatan, setiap orang menjadi kerabat.”

 

Tentang Babad Lembâna

Diselenggarakan setiap minggu kedua Desember sejak 2021, Babad Lembâna adalah repertoar hajatan sosial selama tujuh hari yang memusatkan perhatian pada interaksi antarsubjek melalui karya seni, ruang spesifik, objek keseharian, dan warga Lembâna. Hajatan ini berfungsi sebagai metode riset kultural untuk membaca lanskap sejarah, kosmologi, dan koreografi sosial Madura, sekaligus memikirkan bagaimana memori dan praktik lokal dapat menjadi basis pembayangan masa depan.

Babad Lembâna dijalankan melalui prinsip gotong royong, dengan mengadopsi logika sosial masyarakat Madura. Gotong royong dipahami sebagai mekanisme merawat relasi sosial, sehingga kegiatan seni dibaca sebagai proses yang selalu berlangsung dalam relasi.

 

Foto bersama para seniman dan partisipan Babad Lembana 5. Foto: dok. Lembana.

 

 

Babad Lembâna 5: Pamolèan

Edisi kelima Babad Lembâna mengusung tema Pamolèan sebagai kerangka kuratorial. Pamolèan diposisikan sebagai tema sekaligus metode membaca ulang lanskap sosial-kultural Madura yang kompleks dan lintas identitas. Madura dilihat sebagai ruang rimpang, yakni ruang perlintasan sejarah dan praktik budaya yang telah bercampur dari ragam identitas.

Program-program Babad Lembâna 5 dirancang sebagai trayektori kepulangan, yang mengajak publik mengalami Lembâna melalui tubuh, pengetahuan, ruang, dan komunitas. Rangkaian kegiatan meliputi musyawarah (diskusi publik), madrasah keproduseran; ziarah situs, ceramah budaya, pertunjukan teater, teater, musik; pemutaran film, lokakarya, dan pameran di ruang-ruang komunal.

Babad Lembâna 5 menghadirkan lebih dari 70 seniman, pembuat film, pegiat teater dan tari, peneliti, serta partisipan lintas disiplin, termasuk dua seniman dari Kyoto dan Chiba, Jepang. Para partisipan berasal dari berbagai wilayah Indonesia, seperti Aceh, Lampung, Gresik, Sumenep, Surabaya, Jambi, Bali, Makassar, hingga Jayapura.

Para seniman dan partisipan dalam hajatan ini disebut Sahibul Hikayat, yakni para perawi yang “bertutur” melalui praktik artistik masing-masing. Keragaman latar mereka menciptakan bentang pertemuan gagasan yang luas, memperkaya dialog budaya, dan menghidupkan dinamika hajatan sebagai ruang belajar bersama.

 

 

Narahubung:

Athia Alamanda

081235113644 | @lembanaartgro

Direktur Festival Babad Lembana 5

[email protected]