

Cara Kampung Mengatur Napas di Kota yang Memanas bersama RESPIR
Ternyata keluhan Surabaya Panas benar-benar menjadi panggilan tersendiri. Sengatannya memantul dari aspal, merayap perlahan sampai ke gang-gang kampung. Warga menyebutnya “ongkep!” dalam bahasa Jawa, kata sederhana yang mencerminkan ritme kota yang makin padat, jarang memberi jeda. Kampung-kampung memunculkan siasat kesejukan lewat gestur kecil sehari-hari. Kursi plastik yang dibiarkan di bibir gang berubah jadi tempat singgah untuk ngangin. Pintu rumah terbuka lebar supaya angin bisa lewat semaunya. Deretan pot, kolam kecil, dan bayangan tanaman menjadi perlindungan spontan yang lahir dari insting bermukim.
Di titik ini, Balai RW terasa seperti paru-paru kampung. Ruang yang tumbuh dari kebiasaan warga, dari percakapan acak, dari cara tubuh mencari teduh. Ketika suhu kota terus naik, kebutuhan akan ruang yang aman, teduh, dan ramah muncul dari orang-orang yang hidup dekat dengan panas sehari-hari. RESPIRE membaca gerak itu: bagaimana kampung bertahan melalui strategi mikro, bagaimana balai bisa berkembang menjadi simpul yang menjaga ritme warganya. Renovasi Balai RW 04 Ketandan menjadi percobaan yang menyatukan ventilasi silang, pendinginan hemat energi, dan pengalaman warga yang paling tahu bagaimana udara berputar di lingkungannya. Pameran ini mengajak kita menyelami aliran napas kampung melihat bagaimana tubuh, data, arsitektur, dan kebiasaan harian saling mempengaruhi. Temuan penelitian diterjemahkan para seniman menjadi bentuk-bentuk yang dapat dirasakan, seperti lanskap yang menghubungkan iklim dan pengalaman. RESPIRE menjadi momen untuk melihat ulang ruang komunal yang berupaya menjaga keseimbangan di tengah kota yang makin panas. Sebuah cara untuk mengingat bahwa kesejukan tidak selalu datang dari mesin, tetapi dari ruang yang tumbuh dari hubungan manusia dengan tempatnya.
Operations for Habitat Studies (OHS) sudah lama bergerak di titik-titik kecil kehidupan kampung kota Surabaya. Kelompok ini membaca ruang lewat tubuh warganya; lewat obrolan samping pintu, lewat cara orang duduk, lewat angin yang menabrak dinding rumah sederhana. OHS bekerja seperti peraba: mereka mendekati kampung dengan sabar, membiarkan pengetahuan lokal memimpin arah. Di proyek RESPIRE, peran OHS terasa sebagai penaut antara penelitian, warga, dan ruang yang sedang dirumuskan ulang. Mereka merawat percakapan, memfasilitasi forum, mendengarkan kebutuhan yang muncul dari hari ke hari. Dari situ, Balai RW 04 Ketandan dipahami bukan sebagai bangunan administratif, melainkan simpul kehidupan tempat orang mencari teduh, berkumpul, dan saling mengatur ritme.
Pameran RESPIRE yang digelar 8 sampai 14 Desember 2025 menjadi ruang di mana proses riset, rekaman warga, dan interpretasi kreatif dirangkum dalam satu alur. Agenda publiknya mengalir dari tur pameran, sesi ngobrol santai, hingga Ngeluyur keliling balai-balai kampung yang membuka mata tentang betapa kaya cara orang Surabaya membaca ruang tinggalnya.mDi rentang waktu itu, RESPIRE memberi kesempatan untuk melihat bagaimana kampung menjaga kesejukan lewat pengetahuan mikro yang jarang disorot. OHS menempatkan diri di tengah arus tersebut, memastikan bahwa setiap temuan, setiap suara warga, dan setiap perubahan kecil ruang tetap terhubung dalam satu kesadaran bersama: kampung adalah organisme yang hidup, dan balai adalah salah satu nadinya.
Editor: AHA