Dari Generasi ke Generasi, Sebenarnya apa yang Masih Dibawa oleh Kolektif RuanganSamping?


Kunjungan kedua dalam Pameran Party. Ya! Party, kapan lagi meruang bersama belasan karya di Pasar dengan letupan musik disco saat penutupan hari pertama sangat sukses digelar oleh rekan-rekan kolektif @ruangansamping. Inilah PARTSY #2: Re:Generasi di Pasar Tunjungan, Surabaya, membawa kami pada pembahasan tentang regenerasi, keberlanjutan ekosistem kreatif, dan hubungan antara generasi dalam praktik seni.

Perhatian kami tertuju pada penulisan kuratorial oleh Vini Salma Fadhilah yang menjadi pengantar gagasan dalam penyelenggaraan PARTSY #2. Tulisan tersebut membahas bagaimana perubahan sosial, teknologi, dan budaya memengaruhi proses perpindahan pengetahuan serta praktik dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Membaca Gagasan Re:Generasi

Dalam penulisan kuratorialnya, Vini Salma Fadhilah menjelaskan bahwa regenerasi berkaitan dengan proses penciptaan, kelahiran, dan keberlanjutan. Ia menggunakan awalan “Re:” sebagai konsep untuk melihat kembali sesuatu yang sudah ada melalui pendekatan dan posisi yang berbeda.

Salah satu pernyataan dalam tulisan tersebut berbunyi:

“Yang diteruskan, dengan demikian, bukanlah salinan dari masa sebelumnya, melainkan sesuatu yang telah mengalami proses transformasi dan respons.”

Pernyataan ini menjadi bagian penting dalam memahami gagasan Re:Generasi. Setiap generasi menerima pengetahuan, kebiasaan, gagasan, dan pengalaman dari generasi sebelumnya. Namun, proses penerimaan tersebut selalu dipengaruhi oleh kondisi sosial dan budaya pada masanya.

Dalam konteks praktik seni, proses ini dapat terlihat melalui perubahan medium, metode berkarya, pendekatan artistik, hingga cara pelaku kreatif merespons persoalan di sekitarnya.

Vini juga mengangkat bagaimana sebuah karya, gagasan, kebiasaan, bahkan ruang dapat mengalami perubahan fungsi dan bentuk ketika berpindah ke konteks yang berbeda.

Bagi kami di Artchemist, pembahasan ini relevan dengan kondisi ekosistem seni yang terus berkembang. Regenerasi membutuhkan proses pertukaran pengetahuan, keterlibatan antargenerasi, serta kesempatan untuk mengembangkan praktik yang sudah ada.

Ruang sebagai Bagian dari Pengalaman Pameran

Kunjungan ke Re:Generasi juga mengingatkan kami pada pengalaman mengunjungi ARAK-ARAK: Midnight Haze and The Drifting Flocks, program Road to ARTJOG 2025 yang berlangsung di lantai tiga Pasar Tunjungan.

Dalam program tersebut, mas Jompet Kuswidananto saat itu menghadirkan karya-karyanya dengan mempertimbangkan karakter bangunan dan kondisi ruang Pasar Tunjungan. Lokasi yang sebelumnya memiliki fungsi berbeda digunakan sebagai tempat penyelenggaraan pameran.

Pengalaman tersebut menarik untuk dikaitkan dengan pembahasan konsep meruang. Dalam tulisan Ahmad Sulton di Jogja Art Weeks berjudul Dua Raksasa Ruang: Jompet Kuswidananto hubungan antara karya, tata pamer, dan karakter ruang menjadi bagian dari pembahasan.

Nah, kedua pengalaman ini memberikan sudut pandang untuk melihat bagaimana ruang memiliki pengaruh terhadap penyelenggaraan dan pengalaman sebuah pameran. Pemilihan lokasi, penataan karya, serta kondisi bangunan ikut menentukan bagaimana pengunjung berinteraksi dengan materi pameran.

Hal ini menjadi salah satu aspek yang menarik dalam praktik penyelenggaraan kegiatan seni, terutama ketika lokasi yang digunakan memiliki sejarah dan fungsi sebelumnya.

Regenerasi dalam Ekosistem Seni

Gagasan Re:Generasi juga relevan dengan kondisi ekosistem seni dan praktik kreatif saat ini. Perubahan generasi membawa perbedaan cara kerja, penggunaan medium, pendekatan artistik, serta cara memahami persoalan sosial dan budaya.

Dalam proses tersebut, pertukaran pengetahuan memiliki peran penting. Pengalaman dari generasi sebelumnya dapat menjadi referensi bagi pelaku kreatif berikutnya. Sementara itu, generasi baru memiliki kesempatan untuk mengembangkan pendekatan yang sesuai dengan konteks mereka.

Proses ini dapat berlangsung melalui pameran, diskusi, lokakarya, kolaborasi, maupun berbagai kegiatan yang mempertemukan pelaku seni dari latar belakang berbeda.

Pertanyaan tentang apa yang diwariskan, bagaimana warisan tersebut diolah, dan apa yang akan diteruskan menjadi hal penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem seni.

Setiap generasi memiliki kondisi, pengalaman, dan perspektif yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat menjadi bagian dari proses pengembangan praktik seni ketika tersedia ruang untuk bertemu, berdiskusi, dan bertukar pengetahuan.

Editor : AHA