Chichis Artmorflame: Membaca yang Tak Terbuang, Sebuah Perjalanan dari Kata Menuju Rupa

Oplus_131072


Chichis Artmorflame: Membaca yang Tak Terbuang, Sebuah Perjalanan dari Kata Menuju Rupa

Huruf huruf selalu menemukan jalannya. Ia berpindah, bersinggungan, lalu menetap dalam susunan yang berbeda tanpa benar benar kehilangan dirinya. Tidak ada yang terbuang. Semuanya tetap tinggal, menunggu untuk dimaknai kembali, atau sekadar menunggu waktu untuk diketuk kembali oleh ingatan. Barangkali kehidupan juga bekerja dengan cara yang sama. Setiap pertemuan, kehilangan, harapan, kegagalan, dan perjalanan meninggalkan sesuatu. Ada yang menjadi kenangan, ada yang berubah menjadi pelajaran, dan ada pula yang tidak pernah benar benar selesai sehingga tetap tinggal sebagai bagian dari diri.

Semua pengalaman itu berkumpul dalam satu ruang, saling mengisi dan membentuk seseorang tanpa selalu disadari. Dari ruang semacam itulah karya Chichis Artmorflame bermula. Bukan dari bentuk, bukan dari warna, melainkan dari kata.

Detak. Dekat. Tekad.

Tiga kata yang tersusun dari huruf huruf yang sama. Tidak ada satu pun huruf yang hilang. Hanya letaknya yang berpindah, bergesekan, lalu melahirkan makna yang berbeda. Bagi Chichis, ketiganya bukan sekadar anagram. Ketiganya merupakan bagian dari cara membaca kehidupan. Detak menjadi tanda bahwa kehidupan masih berlangsung. Dekat menjadi proses yang mempertemukan satu kehidupan dengan kehidupan lainnya. Sementara tekad menjadi dorongan untuk terus bergerak setelah kehidupan dan kedekatan menghadirkan berbagai pengalaman.

Karya ini pertama kali dibentuk pada 2018, pada sebuah fase kehidupan ketika banyak hal mungkin belum sepenuhnya dipahami oleh perupa. Namun, waktu membuat karya tersebut semakin terbuka untuk dibaca kembali. Delapan tahun kemudian, gagasan tentang detak, dekat, dan tekad yang hadir melalui susunan kata dan simbol justru terasa semakin relevan dalam kehidupan Chichis. Detak menjadi pengingat bahwa kehidupan terus berlangsung, dekat menjadi bagian dari proses mengenal, kehilangan, dan bertumbuh melalui manusia lain, sementara tekad menjadi dorongan untuk terus bergerak dan berkarya meskipun cita-cita, arah, serta cara memandang kehidupan terus mengalami perubahan.

Dari tiga kata tersebut, lahirlah sebuah karya yang dapat dibaca dari berbagai arah. Pada satu posisi, bentuknya menghadirkan jantung yang merepresentasikan detak dan kehidupan. Ketika diputar, bentuk yang sama menjadi ikan yang merepresentasikan waktu dan pergerakannya. Pada arah lain, bentuk tersebut membentuk kepala manusia, yang merepresentasikan manusia itu sendiri sebagai bagian dari perjalanan kehidupan. Bentuknya tidak benar-benar berubah, melainkan arah mata dalam membacanya. Dari sini, penonton diajak untuk bergerak, memutar kanvas, dan menemukan makna yang berbeda dari satu susunan bentuk yang sama.

Kembali berkarya. Kembali belajar. Kembali mencintai. Kembali merayakan kehidupan.

Detak akhirnya bukan hanya tentang kehidupan yang dimulai, tetapi tentang kehidupan yang terus dipilih untuk dijalani. Ia menjadi sesuatu yang paling dasar sekaligus paling penting. Sebelum seseorang menentukan ke mana harus pergi, ada satu hal yang terlebih dahulu harus disadari, dirinya masih berada di sini.

Dari jantung, karya bergerak menjadi ikan. Ikan tidak pernah benar benar diam. Ia bergerak mengikuti air, berpindah tempat, mencari makan, mencari pasangan, mengikuti kelompoknya, dan pada waktu tertentu bahkan melawan arus. Geraknya tidak selalu memiliki tujuan yang dapat dilihat dari luar. Namun ia tetap bergerak.

Melalui bentuk tersebut, kehidupan dapat dipahami sebagai proses yang tidak selalu memiliki garis lurus. Ada waktu untuk mengikuti arus dan ada waktu untuk mencari jalan lain. Ada perjalanan yang dilakukan bersama, ada pula perjalanan yang harus ditempuh sendiri. Tidak semua perubahan harus memiliki alasan yang besar. Terkadang bergerak memang merupakan bagian dari kehidupan. Ikan menjadi bentuk dari proses. Ia tidak menjanjikan ke mana seseorang akan sampai. Ia hanya menunjukkan bahwa kehidupan tetap bergerak.

Kemudian manusia hadir. Bukan sebagai bentuk yang paling tinggi, tetapi sebagai ruang tempat semuanya bertemu. Manusia memiliki detak. Manusia mengenal kedekatan. Manusia memiliki tekad. Di dalam manusia terdapat keluarga, pertemanan, cinta, kehilangan, kepercayaan, keraguan, harapan, dan berbagai pengalaman yang tidak pernah benar benar dapat dipisahkan satu sama lain.

Manusia menjadi makhluk yang terus mengumpulkan sesuatu dari setiap perjalanan. Pengalaman tidak selalu hilang ketika sebuah peristiwa berakhir. Ia dapat menetap dalam cara seseorang berpikir, merasakan, memilih, bahkan dalam cara seseorang memandang dirinya sendiri. Karena itu, manusia menjadi salah satu cara untuk membaca karya ini sebagai ruang tempat berbagai pengalaman berkumpul dan membentuk seseorang dari waktu ke waktu.

Namun karya ini tidak berhenti pada tiga kemungkinan bentuk tersebut. Di dalamnya masih terdapat berbagai unsur yang saling bertemu. Setiap unsur membawa cerita dan pengalaman masing masing. Merak hijau hadir sebagai gambaran tentang harapan dan surga, sekaligus pengingat bahwa keindahan tidak selalu berjalan bersama kesempurnaan. Di dalam kemegahannya terdapat keterbatasan, sebagaimana manusia yang tumbuh dengan menerima bagian dirinya yang tidak selalu utuh. Domba membawa gagasan tentang keikhlasan, tentang sesuatu yang mungkin harus dilepaskan agar perjalanan dapat terus berlangsung. Sementara kunci dan burung hantu bermuka lubang kunci mengarah pada ruang yang lebih sunyi seperti keimanan, doa, dan harapan yang disimpan ketika hari mulai berakhir. Ada hal-hal yang hanya dapat dibuka melalui keyakinan. Di antara seluruh simbol tersebut, tangan hadir sebagai bentuk kedekatan dan genggaman, tentang sesuatu yang ingin dipertahankan meski tidak selamanya dapat dimiliki. Keseluruhan unsur itu kemudian dipertemukan oleh manik-manik yang tersebar di dalam karya. Kecil dan sederhana, tetapi ketika dikumpulkan, ia menjadi sesuatu yang utuh. Mungkin begitulah pengalaman manusia bekerja, tersusun dari hal-hal kecil yang pernah dirasakan, kehilangan yang tidak selalu terucapkan, harapan yang diam-diam disimpan, dan bagian-bagian kehidupan yang pada akhirnya membentuk diri kita sendiri.

Detak, dekat, tekad, jantung, ikan, manusia, merak, domba, kunci, burung hantu, dan genggaman. Semuanya memiliki ruangnya masing masing, tetapi tetap berada dalam satu karya yang sama. Barangkali perubahan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang baru. Terkadang kita hanya perlu memindahkan sesuatu yang sudah ada ke tempat yang berbeda. Sebagaimana huruf huruf dalam Detak, Dekat, Tekad. Tidak ada yang terbuang. Tidak ada yang benar benar hilang. Hanya berpindah. Dan dari perpindahan itu, lahir sesuatu yang baru.

Delapan tahun setelah karya ini pertama kali dibuat, ia masih dapat dibaca dengan cara yang berbeda. Kehidupan perupa telah bergerak. Pengalaman telah bertambah. Beberapa harapan mungkin berubah. Beberapa cita cita mungkin tidak lagi berada di tempat yang sama. Namun karya tersebut masih menyimpan sesuatu yang tetap dekat dengannya.

Ia menjadi semacam arsip dari perjalanan yang tidak berhenti pada tahun ketika kanvas selesai dikerjakan. Karya itu ikut tumbuh bersama orang yang membuatnya. Mungkin di situlah karya ini menemukan relevansinya. Ia tidak perlu berubah untuk tetap berbicara. Justru kehidupan yang berubah membuat makna di dalamnya kembali terbuka. Apa yang dahulu dibuat sebagai gagasan, hari ini dapat dibaca sebagai pengalaman. Apa yang dahulu terasa sederhana, hari ini mungkin memiliki lapisan yang lebih panjang.

Pada akhirnya, karya Chichis Artmorflame bukan hanya tentang apa yang digambar di atas kanvas. Ia adalah perjalanan tentang bagaimana seseorang membaca hidupnya sendiri melalui bentuk, rasa, ingatan, keyakinan, dan pengalaman yang pernah tinggal di dalam dirinya.

Satu karya, banyak arah, banyak kemungkinan, dan mungkin sebanyak itu pula cara manusia memahami kehidupan. Yang berpindah bukan berarti hilang. Yang berubah bukan berarti selesai. Dan yang tertinggal, mungkin justru sedang menunggu untuk dibaca kembali.

 

 

Leandry Oktaviana Putri Marshaidi, yang akrab disapa YAYA, merupakan perupa dan penulis dengan latar belakang pendidikan Psikologi dari Universitas Muhammadiyah Malang dan saat ini sedang menempuh pendidikan Pascasarjana Psikologi di Universitas Airlangga Surabaya. Ketertarikannya berfokus pada pertemuan antara seni, psikologi, dan kehidupan sosial manusia. Selain berkarya dalam bidang seni rupa, ia aktif dalam berbagai kegiatan kreatif, pengelolaan komunitas, serta pengembangan ruang yang mempertemukan seni dan masyarakat. Melalui tulisan dan karya visual, YAYA mengeksplorasi bagaimana bentuk, pengalaman, dan simbol dapat menghadirkan beragam cara pandang serta makna.