Rasa Menjelma Bahasa di Rumah Kampung Kemasan Menuju Biennale Jatim XI

 

 

Rozana Muthiah dalam Biennale Jatim XI – Hantu Laut

 

Di sebuah rumah tua di jantung kota Gresik, suara air dituangkan ke dalam kendi menjadi pembuka sebuah pertunjukan. Seperti panggung tubuh, menjadi sebuah ingatan, dan identitas kampung dengan narasi budayanya.

Menuju perhelatan hajat seni dua tahunan, ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kami mengundang beberapa tokoh dan penjalin bisnis dalam makan malam bersama dengan sentuhan sedikit pertunjukan.
Art Dining: Performance of Taste on the Coastal Table adalah perjamuan artistik yang diciptakan oleh seniman Rozana Muthiah sebagai bagian dari Biennale Jatim XI bertema Hantu Laut. Dalam acara ini, Rozana mengolah gastronomi yang benar menjelma menjadi medium utama performans. Setiap suapan adalah satu babak. Setiap rasa adalah satu narasi.

Dalam empat babak yang mengalir seperti ombak—Wedang Secang, Nasi Krawu, Kelo Kuning Meniran, dan Sebongko Kopyor—peserta diajak untuk menafsir bukan hanya rasa, tapi juga jejak-jejak sejarah dan kearifan kuliner pesisir Jawa Timur. Menu yang disajikan bukan dari restoran mewah, melainkan dari dapur kenangan, dari tubuh-tubuh yang tumbuh bersama laut dan ladang.

 

“Di meja makan, rasa hadir di lidah. Ia hidup dalam kenangan, dalam tubuh yang menunggu, dalam suara yang pelan-pelan meramu makna. Art Dining adalah cara saya menyulam rasa menjadi bahasa,”
— Rozana Muthiah

Pertunjukan ini bersifat intim. Hanya dua puluh kursi disediakan. Tidak ada jarak antara seniman dan peserta. Pelayan menjadi bagian dari koreografi, piring menjadi alat komunikasi, dan waktu berjalan tidak hanya secara kronologis—tetapi emosional.

 

Sebagai bagian dari Art-Based Fundraising Biennale Jatim XI, acara ini juga membuka diskusi mengenai keberlanjutan praktik seni yang berbasis komunitas dan lintas medium. Tim Biennale mempresentasikan visi mereka ke depan: bahwa seni bisa menyentuh lidah, dan juga menyentuh sistem.

“Kami melihat Art Dining sebagai perluasan ruang temu antara publik dan seni, bukan di galeri, tapi di meja makan. Ini adalah wujud lain dari praktik artistik yang bersandar pada keseharian dan relasi antar tubuh,”
— Tim Kurator Biennale Jatim XI

 

 

Editor: AHA