Biennale Jatim XI: Sekali Lagi “Jangan” Berlayar di Atas Gelombang Ketidakpastian

Membayangkan seperti apa pelayaran Biennale Jatim XI tahun ini (2025), perlu sekiranya untuk menoleh sebentar ke belakang—membaca jejak-jejak zigzag yang membentuknya. Karena Biennale Jatim tumbuh dengan ritme yang ganjil: kadang tergesa, kadang terlalu diam; kadang liar, kadang kembali tertib. Ia bisa berubah arah begitu cepat, secepat pergantian juru kemudinya. Justru dalam ketidakkonsistenan itulah Biennale Jatim menunjukkan bahwa ia masih terus berlayar—meski kerap disapu badai, oleng, nyaris karam, tambal sana-sini, lalu kembangkan layar lagi sambil menerka-nerka ke mana arah angin yang paling menguntungkan. Ya, Biennale Jatim tidak se-konvensional Biennale-Biennale lainnya; lebih mirip rangkaian eksperimen navigasi, ketimbang agenda seni yang berjalan dalam pola baku.

Rangkaian eksperimen navigasi ini tampak kentara dalam Biennale Jatim edisi ke-8 hingga ke-11 — serangkaian fase reparasi dan silih bergantinya nahkoda dan awak kapalnya yang tak pernah benar-benar sanggup menetap. Dimulai dari Edisi ke-8 “GAS TOK! Lebur Sakjeroning Jawa Timur” yang hadir sebagai manuver pembajakan. Arah kemudi diambil alih oleh para penumpang yang menolak hanya duduk di geladak, menegosiasikan kembali laju kapal yang sebelumnya dikendalikan oleh sentralistik kultural yang mapan. Di tengah terhentinya aliran logistik dari struktur kebudayaan Jawa Timur, gotong-royong menjadi mesin penggerak. Pembiayaan bukan penghalang, justru melahirkan siasat artistik: improvisasi, jaringan kolektif, keberanian mencoba, dan daya lenting di luar logika birokrasi.

Ya, Biennale Jatim 8 menandai sebuah tonggak penting dalam sejarah perjalanannya — melepaskan jangkar dari pelabuhan sentralistik pusat kota (Surabaya), dan mulai berlayar menuju pelabuhan-pelabuhan pengumpan di berbagai kabupaten/ kota Jawa Timur. Sentralitas dilepaskan; jaringan kolektivitas ditebarkan. Biennale ini menjaring ragam kegiatan seni berbasis gotong-royog yang tersebar, sebuah perayaan seni yang cair, terbuka, dan egaliter. Di sini, agen-agen pemula yang mendalami kompetensi kebudayaan tampil sebagai penggerak, menembus batas-batas konvensi dengan medium yang nyaris tanpa sekat: melibatkan 500 seniman dalam 54 program mulai dari pameran, pertunjukan warga, diskusi, hingga ritual-ritual kultural yang tumbuh dari etos keseharian Masyarakat Jawa Timur(1).

Pameran Biennale Jatim “Ruang & Rasan” Poponopo x Rumah Sapu x Ublik di Batu. 

Sumber foto: Dok. Biennale Jatim 2018

Pola navigasi yang digagas Biennale Jatim ke-8 menandai pergeseran orientasi seni dari dominasi objek menuju praktik relasional yang memproduksi jejaring sosial. Seni dipahami bukan lagi sebagai hasil akhir, melainkan sebagai situasi yang merangsang partisipasi, memfasilitasi pertemuan, memperluas dialog, dan mengaktifkan negosiasi antar manusia(2). Biennale Jatim menjelma menjadi proses yang membuka medan-medan kemungkinan bagi perjumpaan sosial. Dalam lanskap ini, seni beroperasi sebagai ruang negosiasi antara individu, kolektif, dan ruang hidup—sebuah state of encounter dimana batas antara seniman dan warga menjadi cair, dan praktik artistik berakar pada jaringan relasional yang tumbuh secara organik dari dinamika kultural lokal.

 

 

Program “Ekspedisi Santet” Biennale Jatim 8 di Sampang Madura

Sumber foto: Dok. Biennale Jatim 2018

Semangat relasional inilah yang kemudian menjadi bekal pelayaran berikutnya pada Biennale Jatim ke-9 “Padhang Rembugan” (Menimbang Solidaritas, Merayakan Kolektivitas). Jika pada edisi ke-8 Biennale Jatim berlayar secara improv dalam menyiasati keterbatasan sumber daya, maka yang ke-9 hadir sebagai upaya negosiasi serius—merapikan jejaring kolektif ke dalam struktur kerja yang lebih terorganisir dan upaya hubungan kerja jangka panjang. Mode kerja kolektif yang sebelumnya berbekal “Pokoknya Gas” mulai menemukan pijakan sistematis, mengukuhkan prinsip desentralisasi sekaligus membangun kerangka kuratorial yang memperhitungkan dinamika wilayah, sebaran potensi artistik, serta partisipasi kolektif yang disusun secara strategis.

 

Biennale Jatim 9 “Tombo Ati 5.0” Tubgraff x Papground x Prewangan Studio di Tuban

Sumber foto: Dok. Prewangan Studio 2020

Hasilnya, wilayah Jawa Timur “Padhang” oleh 115 program yang terhampar nyaris di seluruh kabupaten dan kota dengan melibatkan 350 seniman(3). Temuan menariknya adalah metode Dewan Syuro Kurator: sembilan navigator wilayah pemegang otonomi artistik yang terhubung langsung dengan komunitas, seniman dan audiens. Model ini menawarkan kerangka kuratorial yang tidak lagi terpusat, melainkan menjadi proses kolaboratif, partisipatif, dan tersebar(4). Sebuah upaya pengelolaan desentralisasi, di mana otoritas artistik dan administratif didistribusikan secara horizontal antar komunitas, seniman, dan pengelola — menghadirkan diskursus kritis tentang ambang batas, paradoks, dan ketegangan dalam eksperimen desentralisasi budaya. Meski kompleks, Biennale Jatim 9 sekiranya berhasil membagun ekosistem seni yang terus dinegosiasikan — medan di mana solidaritas dan redistribusi peran menemukan artikulasinya.

 

Penutupan Biennale Jatim 9 di Magetan

 

Sumber foto: Dok. Biennale Jatim 2020

Sayangnya, sistem navigasi desentralisasi pada dua edisi sebelumnya harus berhenti atau setidaknya dihentikan pada penyelenggaraan Biennale Jatim ke-10 “Cultural Synthesis”. Angka sepuluh, yang secara simbolik dipersepsikan sebagai momen puncak dan representasi kebesaran, memunculkan ekspektasi untuk menampilkan sesuatu yang lebih megah dan terpusat. Desentralisasi yang sebelumnya menjaring ragam kekuatan kolektif di berbagai daerah, secara perlahan ditarik kembali ke pusat untuk dikonsolidasikan. Biennale Jatim 10 berlayar membawa misi pemetaan artistik dalam tiga tipologi sosio-kultural Jawa Timur: pesisir, gunung, dan urban — narasi besar yang mencoba merangkum kompleksitas kultural provinsi ini dalam satu bingkai kuratorial.

 

Pameran Bienale Jatim 10 “Masuk Pagar Belok Kiri” di Tambak Bayan Surabaya

Sumber foto: Dok. Biennale Jatim 2022

Ekspektasi besar ini, ironisnya, justru menekan daya kelola Biennale Jatim yang secara struktural belum mapan — baik dari segi pendanaan, manajemen sumber daya, maupun infrastruktur pengelolaan. Situasi ini kian memperuncing ketegangan internal: struktur yang rapuh dipaksa menopang beban ekspektasi simbolik “perayaan satu dekade”. Ketimpangan antara ambisi dan kapasitas justru melahirkan arogansi—mending “Bakar Kapal” kalau konsep ini tidak terlaksana. Alih-alih melanjutkan semangat kolektif yang sudah terjalin, Biennale Jatim 10 malah membayangkan make-up event — kemegahan yang tidak bisa dibayangkan seperti apa “megahnya” karena jujur saja daya kelolanya rapuh.

Situasi buntu pun tak terhindarkan, mendekati pelaksanaan, arus pendanaan miliaran rupiah yang direncanakan tak kunjung mengalir. Di persimpangan dilematis — Biennale Jatim 10 dipaksakan berlayar dalam mode darurat, bertumpu pada skenario-skenario cadangan yang serba tambal sulam. “Alhamdulillah-nya gak jadi bakar kapal” pameran tetap berlangsung di tiga titik — Orasis (Surabaya), Tambak Bayan (Surabaya), dan Rumah Budaya Malik Ibrahim (Sidoarjo) — dengan keterbatasan yang nyaris struktural. Keterbatasan yang menutup ruang pembacaan kritis kekaryaan karena secara konteks artistik; relasi antara karya dan gagasan kuratorial menjadi nyaris tidak relevan. Medium yang dihadirkan pun jauh dari bayangan ideal; alokasi biaya produksi yang sangat minimal, tentu saja meruntuhkan ekspektasi kemegahan artistik yang dibayangkan sebelumnya.

 Namun demikian, meski implementasi artistiknya tidak sesuai ekspektasi, Biennale Jatim 10 masih menyisakan jejak epistemik yang relevan. Setidaknya, Cultural Synthesis mewariskan pondasi analitis atas konfigurasi kultural Jawa Timur melalui pembagian tiga wilayah besar: pesisir, pegunungan, dan urban. Skema ini berkelindan dengan pemetaan kebudayaan yang sebelumnya dirumuskan oleh Sutarto dan Sudikan, di mana karakteristik sosial, historis, dan kultural masing-masing kawasan merefleksikan keragaman struktur sosial masyarakat Jawa Timur(5). Kerangka konseptual ini membuka peluang pembacaan baru tentang heterogenitas kebudayaan Jawa Timur dalam wacana pengelolaan kebudayaan lokal di penyelenggaran Jatim Biennale selanjutnya.

Akhirnya, hari ini Biennale Jatim XI menyanggupi warisan epistemik dari edisi ke-10 ini. Dengan segala turbulensi internal yang terus membayangi, nahkoda dan para awak kapalnya kembali berganti, mencoba menavigasi ulang pembacaan atas bentang kultural Jawa Timur. Wilayah “pesisir” diangkat sebagai medan tafsir kuratorial yang tidak sekadar menjadi bingkai estetika representasional, melainkan metode epistemologis: meraba, menyingkap, merawat, dan menata ulang lanskap afektif pesisir secara lebih inklusif. Suatu ikhtiar estetisasi yang dioperasikan sebagai “distribution of the sensible” menentukan batas-batas dari apa yang dapat dilihat dan tidak dilihat, diucapkan dan tidak diucapkan, dipikirkan dan tak terpikirkan(6)

Terdengar muluk memang, tapi inilah satu misi pelayaran yang membakar semangat nahkoda dan awak kapal barunya. Di tengah keterbatasan sumber daya, alotnya menjaring pendanaan, serta arus ketidakpastian yang terus membayangi seperti edisi sebelumnya. Biennale Jatim XI tetap berikhtiar menegosiasikan ulang jalinan antara praktik artistik, masyarakat lokal, dan konfigurasi sosial-budaya yang mengitarinya. Maka, Biennale Jatim XI nantinya dibayangkan tidak hanya menyediakan ruang pamer karya seni, melainkan membuka medan tafsir wilayah pesisiran Jawa Timur — eksperimentasi epistemik yang terus dinegosiasikan di tengah gelombang perubahan wilayah kebudayaan pesisir dalam sebuah paradoks; berkah ataukah bencana.

Di sinilah navigasi kuratorial menjadi krusial: bukan untuk menumpuk ekspektasi pada capaian artistik yang megah, melainkan merumuskan format perayaan seni yang berakar pada relasional — mempertemukan seniman, komunitas pesisir, dan audiens dalam jejaring dialog, kolaborasi, serta pertukaran pengetahuan. Menempatkan seni tak lagi sekadar representasi tunggal, melainkan medan perjumpaan pengalaman, memori, dan tafsir atas kompleksitas wilayah pesisir. Biennale Jatim XI tidak hendak mengejar puncak-puncak estetika yang monumental, melainkan membuka ruang perjumpaan untuk bersama-sama menafsir ulang realitas pesisir yang senantiasa cair. Sebab, bila menggantungkan harap pada satu model penciptaan artistik semata, ekspektasi itu pun akan runtuh oleh batasan sumber daya dan dinamika kompleks yang melingkupinya.

 

Biennale Jatim XI di Ritus Liyan: Superposisi Pesisir

Suasana Pesisir Kampung Lumpur Gresik 

Sumber foto: Dok. Ritus Liyan x Biennale Jatim 2025

Navigasi kuratorial Biennale Jatim XI telah dirumuskan sejak riset awal yang difasilitasi oleh AIIOC dalam program Ritus Liyan: Superposisi Pesisir. Hasil risetnya tidak hanya menjadi sebentuk pemetaan konteks kuratorial, tetapi turut merangkai struktur program Biennale Jatim XI. Isu-isu yang muncul dari realitas pesisir Gresik sebagai representasi dari wilayah pesisir kebudayaan Arek— mulai dari transformasi ruang hidup, pergulatan identitas, hingga paradoks antara industrialisasi dan keberlanjutan — kemudian diartikulasikan dalam berbagai format artistik berbasis relasional. Program tidak dibangun dalam skema kurasi yang tertutup, melainkan dalam pendekatan terbuka yang mengundang respons, eksperimen, dan interaksi antara seniman, peneliti, serta komunitas lokal.

Walaupun riset bersama Ritus Liyan: Super Posisi Pesisir ini baru menyasar satu kawasan pesisir dalam lanskap kebudayaan Arek, setidaknya telah memungkinkan penyusunan navigasi awal untuk mengartikulasikan dinamika pesisir-pesisir lain di wilayah Jawa Timur. Di titik inilah, tugas kurator menjadi kian kompleks: idealnya harus mampu mengartikulasikan keragaman pesisir Madura, Pandalungan, Mataraman, dan Osing — wilayah-wilayah yang meski memiliki segaris persoalan, tetap menyimpan lapis-lapis kekhasan sosial, ekologis, historis, serta kultural yang tak sepenuhnya identik. Maka, kerja kurasi dalam mengartikulasikan wacana bukan sekadar memperluas cakupan, melainkan menajamkan kepekaan dalam menanggapi perbedaan dari persoalan-persoalan yang serumpun namun berkembang secara khas di tiap wilayah.

 

Membayangkan “Hantu Laut” di Biennale Jatim XI

 

Salah satu prahu milik warga Kampung Lumpur Gresik yang bernama “Hantu Laut”

Sumber foto: Dok. Ritus Liyan x Biennale Jatim 2025

Pada akhirnya, di awal pelayarannya bersama Ritus Liyan ini, Biennale Jatim XI melabuhkan tema “Hantu Laut” sebagai navigasi konseptual dalam membaca ulang lanskap pesisir—bukan semata ruang geografis, tetapi sebagai simpul memori dan perlintasan konflik. “Hantu” dalam bingkai ini hadir bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai penanda akan yang tertinggal, yang tak sempat selesai, dan yang perlahan terhapus oleh gelombang pembangunan. Ia mewakili suara-suara sunyi: spiritualitas maritim, solidaritas komunitas, hingga pengetahuan lokal yang terdesak. Artikulasi “Hantu Laut” bagi Biennale Jatim XI tidak hanya membicarakan luka-luka ruang pesisir, tetapi ikut menyusup sebagai agen pengingat—menggugah imajinasi bersama akan masa depan yang lebih adil, ekologis, dan setara antar-agen manusia dan non-manusia.

Sebagai navigasi pelayaran, “Hantu Laut” menentukan kerangka program Biennale Jatim XI dalam bingkai metafora angin-musim sebagai penentu haluan kerja kuratorial. Dimulai dari Angin Barat — musim badai — melalui program Wicara dan Ritus Liyan, menandai awal pelayaran. Berlanjut pada Angin Peralihan Pertama atau Musim Laut, menandakan kerja-kerja penjaringan kolektif, membangun relasi dengan kekuatan lokal dan stakeholder di Jawa Timur. Memasuki fase Angin Timur — musim panen — program mencapai puncaknya: pertukaran wacana, pematangan karya, penyelenggaraan pameran, hingga ragam aktivitas artistik lainnya yang berlangsung intensif. Lalu bergerak ke Angin Peralihan Kedua, fase pengendapan temuan gagasan lewat kerja-kerja penerbitan, dokumentasi, dan refleksi.

Rencana pelayaran berama “Hantu Laut” ini, meninggalkan prinsip event-centrism sebelumya menuju distributed curating(7). Alih-alih memusatkan capaian pada pameran sebagai titik kulminasi, keseluruhan proses — mulai dari riset, penjaringan relasi, produksi pengetahuan, kerja-kerja produksi artistik, dan penerbitan — diperlakukan sebagai jaringan peristiwa yang tersebar (dispersed constellation of events) yang saling menghidupi. Setiap fase saling menyokong, saling mematangkan, dan bersama-sama membentuk ekosistem kerja kuratorial yang berlapis. Biennale Jatim XI diputuskan tidak lagi semata menjadi puncak selebrasi pameran, melainkan sebagai perjalanan panjang produksi artistik dan pengetahuan, membangun relasi sosial, sekaligus laboratorium tafsir yang terus berproses sepanjang waktu penyelenggaraan.

Dalam lintasan pelayaran Biennale Jatim XI, yang sudah dimulai sejak tulisan ini terbit, kesinambungan dengan jejaring kolektif edisi ke-8 dan ke-9 terus dirawat. Upaya desentralisasi tetap dihidupkan melalui sebaran program ke berbagai simpul pesisir Jawa Timur, meramaikan kembali pelabuhan-pelabuhan pengumpan di berbagai kabupaten/ kota Jawa Timur. Sementara itu, pelabuhan sentral tidak serta-merta ditinggalkan, melainkan dialihkan orientasinya secara taktis: pesisir Gresik dipilih sebagai titik berangkat—menandai dimulainya pelayaran. Lokus Gresik bukan sebagai episentrum yang menutup, melainkan sebagai poros pengikat bagi jaringan peristiwa artistik yang tersebar, memungkinkan percakapan antar wilayah pesisir terus hidup, berkelindan, dan saling menyilang.

Sekali lagi, membayangkan pelayaran Biennale Jatim XI berarti menurunkan jangkar ekspektasi dari mimpi-mimpi monumental artistik semacam ArtSub atau Road to ArtJog “Arak-Arakan”. Walaupun tentu penyelenggaraan Biennale bukanlah Art Fair yang mengandalkan komodifikasi karya, tapi perlulah sedikit meninjau kemegahan daya artistik kedua pameran yang sempat menghebohkan Surabaya itu. Seluruh awak kapal barangkali sudah mafhum: kapal ini belum dilengkapi mesin turbo yang memungkinkan manuver artistik semegah itu. Tapi, siapa tahu di edisi Biennale Jatim XX kelak, setiap kabupaten/kota bisa “menggeber” panggung artistiknya dengan dentuman produksi ala Art Fair. Kunci utamanya, tentu variabel dana produksi. Bayangkan saja, jika setiap kolektif (terpilih) diberi otoritas penuh untuk mengelola pameran (desentralisasi) di beberapa titik wilayah Jawa Timur, lengkap dengan suplai logistik kuratorial ratusan juta, bisa jadi daya artistiknya sejajar dengan Art Fair. Pada akhirnya, kapital pun turut menentukan kadar estetika.

Maka dari itu, mari kembali bersandar pada kenyataan awal. Yang dihadirkan Biennale Jatim XI dalam “Hantu Laut” ini, bukan puncak selebrasi spektakuler artistik, melainkan ritme program yang sabar, berlapis, dan saling menghidupi: menjalin dialog, mempertemukan pengetahuan lokal, membangun relasi sosial, serta merawat ekosistem wacana, tafsir, dan refleksi kritis wilayah pesisir. Setiap simpul program dirancang sebagai ruang pertemuan dinamis, tempat gagasan tumbuh, tafsir saling bersilang, dan sensitivitas baru atas kompleksitas lanskap pesisir dimatangkan. Pelayaran ini bukan sekadar lintasan menuju tujuan akhir, melainkan proses pelayaran itu sendiri—yang justru menjadi bahan bakar bagi keberlangsungan Biennale Jatim.

“Lalu, dimana seni-nya?”

Di sinilah tugas kurator: merespons dan merumuskan dalam kepandaiannya menyiasati prinsip-prinsip artistik pada tiap fase program Biennale Jatim XI yang akan berlayar sepanjang tahun ini.

Selamat Berlayar…….

 

Refrensi:

(1) Katalog Jatim Biennale 8. Gas tok – Lebur sak jeroning Jawa Timur. Surabaya: Jatim Biennale, 2020.

(2) Nicolas Bourriaud, Relational Aesthetics. Dijon: Les Presses du Réel, 2002, hlm. 18.

(3) Biennale Jatim 9. Suar, Sebar, Sumebar: Post-Event Catalogue of BJIX. Surabaya: Biennale Jatim, 2022.

(4) Paul O’Neill, The Culture of Curating and the Curating of Culture. Cambridge: MIT Press, 2012, hlm. 145.

(5) Sutarto & Setya Yuwana Sudikan, Wilayah Kebudayaan di Jawa Timur. Surabaya: Pustaka Eureka, 2008, hlm. 3.

(6) Jacques Rancière, The Politics of Aesthetics: The Distribution of the Sensible, terj. Gabriel Rockhill. London: Continuum, 2004, hlm. 12.

(7) Paul O’Neill, The Culture of Curating and the Curating of Culture. Cambridge: MIT Press, 2012, hlm. 13–15.

 

 

 

Profil

Toriq Fahmi – Penulis dan peneliti.

Saat ini di Yayasan Serbuk Kayu sebagai direktur kajian dan riset, dan pimpinan redaksi Terbit Terang Yayasan Biennale Jatim.

Cp: 085853201934 – Social Media: @f.thoriq